PONTIANAKGLOBE.COM, BANTEN -- Kasus dugaan penamparan siswa oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, yang sempat ramai diperbincangkan publik, kini resmi berakhir damai.
Peristiwa yang semula memicu polemik tersebut bermula ketika sang kepala sekolah, Dini Fitria, menegur siswanya, Indra Lutfiana Putra, karena kedapatan merokok di lingkungan sekolah. Namun, teguran itu berujung pada insiden kontak fisik ringan yang kemudian viral di media sosial dan mendapat sorotan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
Baca Juga: Viral! Candaan Prabowo soal Oxford dan Harvard Bikin Steve Forbes dan Hadirin Tertawa
Kasus tersebut akhirnya menemukan titik damai setelah Gubernur Banten, Andra Soni, mempertemukan Dini Fitria dan Indra Lutfiana Putra di ruang kerjanya di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, pada Rabu, (15/10/2025).
“Hari ini kami mempertemukan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, Ibu Dini Fitria, dengan Indra Lutfiana Putra, siswa yang sebelumnya sempat berselisih,” tulis Andra melalui akun Instagram resminya, @andrasoni12.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk saling memaafkan. Gubernur Andra memastikan bahwa penonaktifan sementara terhadap Dini akan segera dicabut, sehingga ia dapat kembali menjalankan tugasnya sebagai kepala sekolah.
“Alhamdulillah, keduanya telah berdamai. Dengan demikian, Ibu Dini akan segera kembali aktif memimpin sekolah karena kegiatan belajar mengajar sudah berjalan normal,” kata Andra.
Insiden bermula pada kegiatan Jumat Bersih yang digelar sekolah pada 10 Oktober 2025. Saat berkeliling memantau kegiatan, Dini mengaku melihat seorang siswa sedang merokok di area belakang sekolah.
“Tujuan kegiatan itu untuk membentuk karakter peduli lingkungan. Tapi yang mengganggu pandangan saya adalah anak yang merokok,” ujar Dini kepada wartawan pada 14 Oktober 2025.
Ketika ditegur, sang siswa sempat membantah, namun Dini kembali memergokinya merokok. Merasa kecewa karena dianggap berbohong, Dini mengaku sempat menegur dengan nada tinggi hingga terjadi kontak fisik ringan.
“Yang membuat saya marah itu karena dia berbohong,” tuturnya.
Usai kejadian tersebut, dukungan terhadap kepala sekolah justru datang dari para siswa. Lebih dari 630 siswa melakukan aksi mogok sekolah pada Senin, 13 Oktober 2025, sebagai bentuk solidaritas terhadap Dini Fitria.
Baca Juga: Viral! Candaan Prabowo soal Oxford dan Harvard Bikin Steve Forbes dan Hadirin Tertawa
Meski demikian, kegiatan guru di sekolah tetap berjalan. “Tentu aksi mogok itu tidak benar, tapi kami para guru tetap bekerja. Kami ASN, tugas kami melayani,” ucap Dini.
Kasus ini kemudian ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi Banten. Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menyatakan bahwa penonaktifan sementara dilakukan demi menjaga kondusivitas dan sebagai bagian dari proses investigasi.
Artikel Terkait
Hampir Putus Sekolah, Raihan Kini Bisa Belajar Gratis di Sekolah Rakyat Makassar
Ketua Banggar DPR Usul Kantin Sekolah Jadi Dapur Program MBG
Heboh! Tiga Sekolah Internasional Dapat Ancaman Bom, Polisi Pastikan Nihil Bahan Peledak
Bedanya Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat, Ini yang Wajib Kamu Tahu!
Kemenko PMK Tegaskan Digitalisasi Sekolah Bukan Sekadar Bagi-Bagi Smartboard, Ini Tujuan Utama-nya
Inovasi Prabowo di Dunia Pendidikan, Sekolah Garuda Buka Jalan Anak Indonesia ke Dunia