Beras RI Tembus 34 Juta Ton! Impor Dihentikan, Swasembada Tinggal Selangkah?

photo author
Nugroho Christian, Pontianak Globe
- Kamis, 9 Oktober 2025 | 22:19 WIB
Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa segera mencapai swasembada beras dalam beberapa bulan ke depan.  (Dok. indonesia.go.id)
Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa segera mencapai swasembada beras dalam beberapa bulan ke depan. (Dok. indonesia.go.id)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Pemerintah kembali menegaskan komitmennya untuk mewujudkan swasembada beras. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa dalam dua hingga tiga bulan ke depan, Indonesia tidak akan melakukan impor beras.Hal itu disampaikannya usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta Pusat, pada Kamis, (9/10/2025).

Amran menegaskan bahwa produksi beras nasional saat ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tanpa harus mengandalkan pasokan dari luar negeri.

“Dua bulan ke depan, atau kurang lebih tiga bulan, insyaallah Indonesia tidak akan impor lagi. Mudah-mudahan tidak ada iklim ekstrem, kita bisa swasembada,” ujarnya kepada wartawan.

Langkah penghentian impor ini menjadi sinyal penting bahwa pemerintah mulai yakin dengan kemampuan produksi dalam negeri. Bahkan, capaian ini disebut lebih cepat dari target awal Presiden Prabowo yang menargetkan swasembada beras dalam waktu empat tahun sejak 2024.

Baca Juga: Belum Genap 3 Bulan, Shin Tae-yong Resmi Dipecat dari Klub Juara K League

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi beras nasional hingga saat ini telah mencapai 33,1 juta ton, dan diperkirakan menembus 34 juta ton hingga akhir tahun 2025.

Jumlah ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan produksi pada tahun 2024 yang hanya berkisar 30 juta ton.

“Perkiraan produksi Januari hingga November ini mencapai 34 juta ton. Tahun lalu hanya sekitar 30 juta ton,” jelas Amran.

Peningkatan tersebut tak lepas dari berbagai program pemerintah, seperti intensifikasi pertanian, perluasan lahan, penyediaan pupuk bersubsidi, hingga modernisasi alat-alat pertanian.

Meski demikian, tantangan masih ada. Cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang dapat mengganggu masa panen dan kestabilan produksi.

Selain meningkatnya produksi, pemerintah juga mencatat adanya tren positif dalam kesejahteraan petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) nasional kini berada di angka 124,36 persen — jauh di atas target Kementerian Keuangan yang sebesar 110 persen.

Amran juga mengungkapkan bahwa pada bulan ini, beras mengalami deflasi sebesar -0,13 persen. Ini menjadi yang pertama dalam lima tahun terakhir, terutama di bulan September yang biasanya merupakan masa paceklik.

Baca Juga: Puluhan Triliun Tunggakan BPJS Kesehatan Bakal Dilenyapkan, Begini Skemanya

Deflasi ini dinilai sebagai indikator stabilnya harga beras di tengah peningkatan pasokan, serta menandakan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nugroho Christian

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Seabad Maria Manaoag, Bersama Jutaan Umat

Rabu, 22 April 2026 | 22:31 WIB

Guru di Bojonegoro Lari ke Sekolah Demi Hemat BBM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:13 WIB
X