Dalam sebulan, angka ini bisa membengkak hingga hampir Rp1 juta!
Baca Juga: Hampir 10 Tahun Beribadah di Rumah Sewa, GKE Betlehem Pontianak Bersiap Bangun Gereja Sendiri
Pengeluaran ini tentu menjadi tidak sehat jika tidak sebanding dengan pemasukan yang kamu hasilkan dari laptop tersebut.
Etika WFC yang Wajib Dipahami
Menjadi pekerja WFC yang cerdas juga berarti harus paham etika bisnis lokal.
Jangan sampai kamu terjebak dalam stereotip "bencana bagi pemilik kafe"—yaitu memesan satu gelas es teh manis seharga Rp10.000, tapi menduduki meja utama selama 6 jam sambil mengisi daya baterai HP, laptop, dan powerbank sekaligus menggunakan Wi-Fi berkecepatan tinggi.
Aturan tidak tertulis WFC yang sehat adalah melakukan pembelian ulang (re-order) setiap 2 atau 3 jam sekali, atau minimal memesan makanan berat jika berniat menetap dari siang hingga sore hari.
Ini adalah bentuk simbiosis mutualisme yang menghargai keberlangsungan bisnis pemilik kafe lokal.
WFC akan menjadi investasi produktivitas yang riil jika kamu datang dengan target kerjaan yang jelas (to-do list yang terukur).
Namun, jika kamu ke kafe hanya untuk membuka media sosial sambil sesekali berfoto estetik demi status Instagram, itu namanya bukan WFC, melainkan cuma memindahkan tempat pengeluaran uang secara impulsif.
Jadilah pekerja digital yang bijak. ***
Artikel Terkait
Lenovo Yoga Slim 9i, Laptop Premium dengan Kamera Under-Display Pertama di Dunia, Ini Kelebihannya
Infinix XBOOK B15, Laptop Stylish, Tangguh, dan Performa Maksimal di Kelas 5 Jutaan, Cocok untuk Sekolah dan Kampus
IFG Dukung Work-Life Balance Karyawan lewat Fasilitas Day Care di Momen Hari Buruh 2025
3 Laptop Advan Soulmate 2025 Cocok untuk Pekerja dan Pelajar, Desain Tipis, Performa Ngebut, Harga Bersahabat
Tunjukkan Keseriusan Bangun Budaya Kerja Sehat, Indosat Raih Penghargaan Great Place To Work
Gray Work Jadi Masalah Baru Dunia Kerja Terutama Keuangan, AI Disebut Bisa Jadi Solusi