Bulog Pastikan Kualitas Beras SPHP Aman, Jadi Instrumen Pengendali Inflasi Pangan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Jumat, 5 September 2025 | 16:32 WIB
Foto ilustrasi beras - Bulog pastikan berasnya masih aman dan layak dikonsumsi.  (Freepik)
Foto ilustrasi beras - Bulog pastikan berasnya masih aman dan layak dikonsumsi. (Freepik)

PONTIANAKGLOBE.COM, JAKARTA -- Perum Bulog memastikan kualitas beras untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap aman dikonsumsi, sekaligus menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam meredam tekanan inflasi pangan.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Mokhamad Suyamto, menyebutkan dari total stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebesar 3,9 juta ton, hanya sekitar 0,1 persen yang perlu dilakukan reproses.

Baca Juga: Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim Terjerat Kasus Korupsi Chromebook, Bagaimana Nasib Bos GoJek Itu?

“Langkah ini untuk memastikan beras yang nantinya disalurkan ke masyarakat tetap terjaga kualitasnya,” kata Suyamto, Jumat (5/9/2025).

Dari jumlah tersebut, 2,95 juta ton berasal dari serapan petani lokal, sementara sisanya merupakan hasil impor yang dilakukan pada akhir 2024 sesuai penugasan pemerintah.

Kombinasi sumber pasokan ini, menurut Bulog, penting dalam menjaga stabilitas ketersediaan beras di pasar domestik.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal, menegaskan pengawasan kualitas dilakukan ketat melalui uji laboratorium.

Hasil uji terakhir pada Agustus 2025 oleh PT Saraswati Indo Genetech dan PT Sucifindo menunjukkan bahwa beras Bulog masih memenuhi standar mutu.

“Bulog berkomitmen agar seluruh beras yang diterima masyarakat dalam kondisi baik, layak konsumsi, serta mampu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen,” kata Rizal.

Baca Juga: Belajar dari Krisis 2008, Milenial Disiplin Menabung, Gen Z Lebih Melek Digital

Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya

Jika dibandingkan dengan 2024, posisi cadangan saat ini jauh lebih kuat.

Pada pertengahan 2024, stok CBP hanya berkisar 1,2–1,5 juta ton, sehingga pemerintah harus mempercepat impor untuk menahan kenaikan harga beras yang sempat menyentuh level tertinggi dalam satu dekade.

Kondisi tersebut mendorong inflasi pangan mencapai lebih dari 8 persen pada Agustus 2024.

Dengan stok 3,9 juta ton pada 2025, Bulog memiliki ruang yang lebih luas untuk melakukan operasi pasar dan intervensi harga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X