PONTIANAKGLOBE -- Sebagian masyarakat barangkali masih memandang sebelah mata jambu mete. Padahal komoditas ini, khususnya bagian kacangnya memiliki nilai jual mahal di perdagangan dunia komoditas untuk jenis kacang-kacangan ketimbang kacang tanah dan almond.
Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah mengatakan memiliki potensi besar, daya tarik industri hilir semakin diminati pasar global selain sebagai bahan baku industri makanan, Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) digunakan sebagai bahan baku industri seperti industri otomotif (kanvas rem, serbuk friksi, campuran ban), industri kontruksi (anti karat peralatan/bahan di darat dan laut) hingga pakan ternak.
"Kacang mete di pasar dunia termasuk salah satu produk kacang-kacangan (nuts) yang paling banyak diperdagangkan dan termasuk komoditas mewah (luxury)," kata Andi Nur Alam Syah dari siaran pers Kementan dikutip Pontianak Globe, Minggu (27 November 2022).
Adapun nilai ekspor produk mete Indonesia rata-rata pada 2017-2020 mencapai US$ 119,938.25 per tahun. Sementara, pada 2020 volume ekspor gelondong mete dan kacang mete masing-masing adalah 85.584 ton dengan nilai US$149.75 juta.
Semestinya, menurut dia, jambu mete, bisa sebagai salah satu solusi atasi kemiskinan di daerah tersebut. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya mendorong agar agribisnis jambu mete dapat menarik perhatian pengusaha perkebunan besar dan akses pasarnya semakin terbuka lebar.
Sejauh ini, berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, untuk areal pengembangan tahun 2020, telah mencapai angka 479.726 ha dengan produksi 165.868 ton. Setidaknya, hampir seluruh areal pengembangan jambu mete merupakan perkebunan jambu mete (99,71%) perkebunan rakyat. Jambu mete merupakan tanaman konservasi pada lahan-lahan marginal beriklim kering, kerap kali ditemui di Indonesia Timur.
Padahal, kata Andi Nur Alam Syah, Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai penghasil mete dibandingkan dengan negara lain, diantaranya musim panen yang berbeda yaitu pada bulan Nopember sampai Desember, sedangkan India, Vietnam dan negara penghasil lainnya di Benua Afrika panen pada bulan Pebruari sampai April.
Selain itu, kualitas gelondong mete lebih baik, dan sebagai pengekspor gelondong mete, letak geografis Indonesia lebih dekat ke Vietnam dan India yang merupakan pengolah gelondong mete dibandingkan negara pengekspor gelondong mete dari Benua Afrika, sehingga lebih murah biaya transportasinya.
Sayangnya, keunggulan tersebut belum menjadi keuntungannya maksimal dinikmati para petani karena posisi tawar petani yang masih rendah, terbatasnya modal yang mereka miliki yang menyebabkan petani segera menjual hasil panennya berapapun harga yang mereka terima.
"Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan khususnya Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tabanan Perkebunan (BBPPTP) Surabaya bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bombana Propinsi Sulawesi Tenggara sejak Tahun 2019 telah membangun nursery untuk komoditas jambu mete," kata Andi Nur Alam Syah.