Dampak Tarif pada Ekonomi Indonesia
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa kebijakan tarif ini berpotensi membawa dampak buruk bagi perekonomian Indonesia.
Menurut Bhima, tarif 32 persen bisa memicu resesi ekonomi pada kuartal IV 2025 serta mengurangi volume ekspor ke AS dan negara lain.
Berikut beberapa dampak yang dikhawatirkan:
-
Sektor Otomotif dan Elektronik Terancam: Tarif tinggi membuat harga produk Indonesia lebih mahal di AS, sehingga permintaan menurun.
-
Gelombang PHK: Produsen otomotif Indonesia kesulitan mengalihkan produksi ke pasar domestik karena spesifikasi produk yang berbeda.
-
Penurunan Pertumbuhan Ekonomi: Diperkirakan turun sebesar 0,08 persen akibat anjloknya ekspor di sektor padat karya seperti pakaian jadi dan tekstil.
"Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan menurunkan jumlah order dari pabrik Indonesia. Di dalam negeri, kita juga bakal dibanjiri produk Vietnam, Kamboja, dan China yang mengincar pasar alternatif," jelas Bhima.
Pemerintah Indonesia kini menghadapi tekanan besar untuk mempertahankan daya saing industri dalam negeri di tengah persaingan dagang global yang semakin rumit.
Strategi mitigasi diperlukan agar ekspor tetap berjalan lancar meski diterpa kebijakan proteksionis dari AS. ***