Dengan usaha keras, Agus mempelajari setiap tahap budidaya, mulai dari pemilihan bibit hingga pemasaran.
Kini, ia mampu memanen hingga 1-2 ton alpukat per hari dengan harga jual Rp30.000-Rp40.000 per kilogram.
Panen biasanya terjadi tiga kali setahun, memberikan penghasilan signifikan bagi para petani di klaster tersebut.
Baca Juga: Investasi Syariah Aman dan Mudah, Begini Panduan Membeli Sukuk Tabungan ST013 Melalui BRImo
Setelah mengikuti program Klasterku Hidupku, Agus mengaku mendapat manfaat besar, termasuk memperluas jaringan bisnis.
“Kami mendapat pengalaman, relasi, dan motivasi. Keuntungannya tidak selalu berupa uang, tetapi juga promosi dan branding produk, yang membantu keberlanjutan usaha,” ujar Agus.
Ke depan, Agus berencana memperluas jangkauan Pusbikat dengan mengajak lebih banyak mitra lokal dan petani daerah.
Ia juga berharap BRI terus mendukung permodalan untuk memperluas distribusi produk alpukat ke berbagai wilayah di Indonesia.
“Kami ingin mengangkat ekonomi masyarakat dengan mengajari budidaya alpukat yang bisa dilakukan di lahan kecil, bahkan di halaman rumah,” ungkapnya.
Komitmen BRI untuk UMKM
Direktur Bisnis Mikro BRI, Supari, menegaskan komitmen BRI dalam mendampingi UMKM melalui program pemberdayaan Klasterku Hidupku.
“Kami tidak hanya memberikan modal usaha, tetapi juga pelatihan dan pendampingan agar UMKM semakin tangguh,” kata Supari.
Ia berharap cerita sukses dari Pusbikat bisa menjadi inspirasi bagi kelompok usaha lain di berbagai daerah.
“Semoga apa yang ditunjukkan klaster ini memotivasi kelompok usaha lain untuk berkembang bersama,” tutup Supari. ***