PONTIANAKGLOBE.COM - Semua berawal dari kepedulian, karean topik tentang kepedulian sering kali menjadi akar dari perubahan besar.
Begitulah cerita lahirnya PT. Grafilin Desa Putera, sebuah perusahaan yang tumbuh dari semangat membantu kaum miskin dan mendidik generasi muda agar menjadi lebih cermerlang.
Berawal dari usaha kecil yang dilakukan oleh Bruder Kongregasi Budi Mulia, kini perusahaan ini menjadi salah satu pemain utama dalam dunia percetakan di Indonesia, dengan pengaruh yang meluas dari dunia pendidikan hingga bisnis grafika.
Indonesia bukanlah medan utama Perang Dunia II, tetapi dampak pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan meninggalkan bekas mendalam pada tatanan sosial dan ekonomi negara ini.
Ekonomi yang sempat terpukul oleh Depresi Besar pada 1930-an semakin terpuruk akibat perang. Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, perekonomian nasional menghadapi tantangan besar untuk pulih dari kekacauan perang dan pendudukan.
Di tengah situasi ini, kondisi masyarakat terutama kaum miskin begitu memprihatinkan. Anak-anak yatim piatu yang terlantar dan hidup dalam kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari.
Melihat kondisi ini, Bruder Kongregasi Budi Mulia dan Perhimpunan Vincentius Jakarta tergerak untuk bertindak.
Mereka terinspirasi oleh semangat pendiri mereka, Pastor Stefanus Modestus Glorieux, yang pada abad ke-19 mendirikan Kongregasi Budi Mulia di Belgia untuk membantu mereka yang hidup dalam kemiskinan akibat perang Revolusi Prancis.
Pada 30 Juni 1947, langkah nyata mereka diwujudkan dengan mendirikan Panti Asuhan Desa Putera. Seiring waktu, Desa Putera berkembang menjadi institusi pendidikan yang bertujuan memberdayakan anak-anak kurang mampu melalui keterampilan dan pendidikan.
Awal Mula Usaha Grafika
Tahun 1950, Desa Putera memulai usaha kecil di bidang penjilidan buku. Usaha ini bertujuan melatih keterampilan anak-anak panti asuhan sekaligus memberikan pemasukan untuk mendukung operasional panti.
Dengan bantuan dari donatur berupa mesin cetak, Bruder Corsini dan Bruder Basilides mulai melatih 12 anak panti dalam keterampilan percetakan.
Perkembangan ini semakin pesat ketika pada tahun 1968, Bruder Eulogus datang dari Belanda dengan membawa mesin cetak yang lebih canggih.