PONTIANAKGLOBE -- Sebagian dari masyarakat Indonesia yang belum tahu tanaman Cengkeh, yuk berkenalan dengan tanaman ini. Sebab tanaman dengan nama latin syzygium aromaticum ini punya nilai sejarah panjang lho.
Dimulai dari seorang penjelajah dari Portugis, Vasco Da Gama yang harus mencari cengkeh ke seluruh dunia. Bagi orang Eropa, cengkeh memiliki kahsiat sebagai kesehatan dan nilai jual yang tinggi.
Pencarian cengkeh di Indonesia oleh orang Eropa ditemukan Nicolo Conti, dia pedagang dari Venesia (Italia). Datang ke Pulau Banda, hingga ke Maluku dan Tidore. Cengkeh pun menjadi primadona hingga saat ini.
Warisan cengkeh bisa ditemui di setiap bumbu masakan Indonesia, begitu juga untuk minuman. Cengkeh pun bermanfaat untuk kosmetik hingga untuk kebutuhan farmasi, pengawet makanan, dan rokok.
Dengan banyak kegunaan dari cengkeh tersebut, peluang bagi pebisnis untuk memproduksinya meraup cuan. Cengkeh menjadi komoditas yang banyak dibutuhkan masyarakat dalam dan luar negeri. Kementerian Perdagangan mencatat ekspor cengkeh pada 2019 mencapai US$11 juta dengan tujuan negara, India, Vietnam, Arab Saudi, Pakistan, Jerman, Belanda dan Inggris.
Apabila anda berminat membudidaya cengkeh, perhatikan benih agar tanaman berkembang dengan baik. Kementerian pertanian memberikan langkah-langkah untuk produksi benih cengkeh agar tidak sembarang tanam, sebagai berikut:
1. Benih berasal dari buah yang telah masak fisiologis (warna ungu kehitaman)
2. Bebas hama penyakit
3. Tidak cacat (tidak ada bekas luka atau bercak hitam jamur)
4. Tidak benjol-benjol (adalah terinfeksi penyakit cacar daun cengkeh)
5. Bobot benih 0,5 gr sampai dengan 0,8 gr
6. Panjang 1,8 cm sampai dengan 3,5 cm
7. Diameter 0,8 cm sampai dengan 1,39 cm
8. Kadar air minimal 80% dengan daya kecambah 85%
9. Panjang akar kecambah ≤ 2 cm, lurus dan tidak rusak
10. Benih harus tumbuh dalam waktu 3 minggu