Karung sabut kelapa ganti karung goni-buat jadi tirai dan serbuknya diolah jadi kompos atau media tanam sayur, kulat, cemaian, dan seledri.
Mengubah bambu jadi anyaman keranjang, bakul, pengayak, dinding rumah, lantai, atap anyaman yang nanti dilapisi dengan lumpur semen yang diolah dari bahan baku kulit kerang yang sangat berlimpah di areal pantai.
Bapak mengajarkan cara membuat semen cara tradisional yang diwariskan turuntemurun dari kakek moyang kami. Beliau membuat panah dari bambu dan sumpit, mengajarkan tentang nyamuk yang menolong manusia agar tetap sehat, lintah yang dapat mengobati kusta/korengan/cacar api yang sekarang disebut cacar monyet.
Mengajarkan tentang ramuan obat herbal natural yang mudah didapat, murah dan praktis lagian dapat dibudidayakan di pekarangan atau tumpangsari dalam kebun kelapa.
Bapak juga berkebun miding, pakis, dan pakuk pogok. Bahkan budidaya kebun rumput untuk ternak kelinci, kambing atau sapi. Menganjurkan ternak kepiting dan kramak, mengajak masyarakat melestarikan mangrove atau bakau di tepian parit besar atau pinggiran sungai agar dapat panen udang, ikan, kepiting dan kramak yang banyak. Beliau mengajak menjaga habitat dan lingkungan hidup.
Karena itulah bapak jadi target pembunuhan Jepang. Bahkan beliau sempat kena tembak tentara Jepang yang menyerbu beliau ke gubuk kami di belakang bahu kanannya pas saat meloncat ke luar di jendela. Syukur beliau menguasai ilmu totok jalan darah atau mampat darah. Lalu berlindung ke dalam parit belakang gubuk.
Tapi kasihan banget umak, beliau disepak, terjang, dipukuli, dihajar dengan popor senapang, ditampar, ditinju kepalanya. Tentara Jepang menanyakan keberadaan bapak sampai umak pingsan berlumuran darah oleh sebuah tembakan pistol yang mengenai belakang bahu kirinya.
Tentara Jepang menembak umak sebab ia menggeleng terus saat ditanyai. Untunglah kemudian tentara Jepang satu pleton itupun pergi tinggalkan umak yang pingsan berlumur darah.
Tak lama kemudian bapak datang membawa Pak Hiu Bong Sinshe buat ngobati umak dan diri beliau sendiri.
Waktu kejadian tersebut kakak saya Muk Lan Ce atau sekarang dikenal sebagai Sr Elisabeth Suriani Musino KFS, baru usia beberapa bulan. Dicari ke mana mana tidak ketemu. Ternyata sore baru ditemukan dalam sumur tua di belakang gubuk, di samping rumpun bambu betung. Syukur kepada Allah airnya kering.
Sekarang kawasan itu berada di sudut kiri belakang gedung sekolah sebelum pasar Jawai Matangsuri atau Thaikhiau-Sapatheu.
Rupanya karena kakak menangis ketakutan malah tentara Jepang melemparkan beliau ke sumur itu. Sungguh kejam dan menyayat hati. ***
Artikel Terkait
Agama Katolik: Doa Malaikat Tuhan Dikenal Juga Sebagai Doa Angelus
Agama Katolik: Doa Malaikat Tuhan atau Doa Angelus versi Bahasa Inggris
Unik, Cara Hidup dan Pandangan Filosofis Teladan Fransiskan: Berbagi dalam Temu OFS Regio Kalimantan Barat