Begitulah sedikit kisah tentang Yayasan Amkur. Maklumlah, saya cuma orang pinggiran yang tak punya apa-apa. Sisa gaji pensiunpun cuma Rp 164.600, sesudah istri wafat.
Yang saya bisa lakukan hanya dapat menyimbang tenaga dan peluh sahaja, kerja ikhlas, tulus dan tidak mengharapkan balasan apa apa. Inilah yang orangtua kami turun-temurun ajarkan kepada kami: hidup jujur, berhati tulus, kerja ikhlas tanpa pamrih, berbakti lugu kepada gereja, nusa/negara, bangsa dan semua orang tanpa pilih bulu.
Ingat semboyan hidup keluarga kita turun-temurun: Jangan pernah menunda apapun yang dapat kau kerjakan sampai besok, lakukan apa yang kamu dapat/ harus kerjakan hari ini.
Sebab emas dan perak kita memang tak punya, tapi anugerah Allah yang ada padamu berikanlah/bagikanlah kepada semua orang yang membutuhkan uluran tanganmu!
Dunia tidak mencatat tentangmu… Ketahuilah di surga Allah mencatat setiap apapun yang kamu kerjakan dan lakukan.
Biarlah mereka buat apa yang disukainya, asalkan kamu tetaplah terus bekerja menurut apa yang Allah kehendaki kita perbuat dengan jujur, tulus, ikhlas tanpa pamrih, berbaktilah kepada semua orang yang membutuhkan mu.
Kerjakan semua itu bersama Allah, untuk memuliakan Allah, mulailah semuanya karena Allah dan selalu dengan memohon berkat Allah, maka semua karyamu akan menjdi berkat bagi semua orang.
Allah yang akan memberi kamu upah dan besarlah upahmu di sana. Inilah saja pedoman hidup saya dan pesan yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga kami. Inilah amalan yang saya terapkan dalam kehidupan keluarga kami.
Bapak Diburu Tentara Jepang
Bapak saya adalah mantan frater. Beliau pernah lolos dari tangkapan tentara Jepang untuk dibantai atau dipancung. Karena beliau adalah orang hebat atau cerdas yang anti penjajahan saat Jepang mendarat di pantai Jawai tahun 1942 akhir.
Selama pendudukan Jepang, bapak saya lah orang pertama yang menngajarkan Agama Katolik di Jawai. Beliau mengajari, melatih, serta membina orang-orang di Jawai tanpa pilih bulu.
Banyak hal baru temuannya seperti membuat garam dari memanfaatkan air laut, mengganti minyak tanah dengan minyak kelapa yang sudah disuling dan cara menyuling minyak kelapa agar bisa jadi minyak tanah atau juga jadi bensin.
Membuat gula semut dari nira kelapa, mengubah air asin jadi air tawar, mengubah batok kelapa jadi arang briket, mendaur tempurung kelapa jadi kancing baju, hiasan burung, asbak, kado, souvenir, lukisan atau hiasan, bunga, lampu, lentera dan lain sebagainya.
Mengolah lidi daun kelapa jadi lampion, kipas, sapu dan lain sebagainya. Mengolah sabut kelapa jadi tali, keset, anyaman hiasan lukisan atau jadi benang untuk menenun kain sarung buat baju.
Artikel Terkait
Agama Katolik: Doa Malaikat Tuhan Dikenal Juga Sebagai Doa Angelus
Agama Katolik: Doa Malaikat Tuhan atau Doa Angelus versi Bahasa Inggris
Unik, Cara Hidup dan Pandangan Filosofis Teladan Fransiskan: Berbagi dalam Temu OFS Regio Kalimantan Barat