Nama Yayasan Amkur di Sambas, Diusulkan Anak Karyawan di Hadapan Uskup Mgr Herkulanus van Den Berg OFM Cap

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Rabu, 21 September 2022 | 07:10 WIB
Tet Luk atau dikenal juga sebagai Yosep Sartomo Musino SAg atau biasa dipanggil Yossart. (Pontianak Globe)
Tet Luk atau dikenal juga sebagai Yosep Sartomo Musino SAg atau biasa dipanggil Yossart. (Pontianak Globe)

Sebelum pindah ke kota Sambas, kami sekeluarga tinggal di Parit Rambayan Hilir, di Kabupaten Sambas. Kami sekeluarga pindah setelah ada tragedy perampokan yang menimpa keluarga kami.

Malam itu, seminggu sebelum lebaran tahun 1959, awal subuh sekitar pukul 01.13 WIB. Bapak baru saja pulang dari nyuluh ikan dan krama (kepiting, ed).

Kawanan perampok itu datang menyerbu pondok reyot kami di pinggiran Parit Rambayan Hilir.  Mereka itu berjumlah sekitar 40-an.

Semua bawa parang panjang mengkilap. Untung bapak hebat kungfunya. Semua dapat dilumpuhkan hanya dengan satu helai handuk basah.

Sebatan handuk bapak pertama menyasar parang perampok, sebat kedua melumpuhkan perampok hingga pingsan. 

Tinggal satu perampok yang terakhir. Perampok itu sempat melukai betis bapak, karena bapak mendahulukan selamatkan saya yang terkejut dan terbangun dari tidur, lalu menangis.

Usai melukai bapak, perampok yang tinggal sendiri yang belum dilumpuhkan itu pun lari terbirit-birit.

Karena bapak khawatir, perampok akan datang kembali dengan membawa pasukan lebih ramai, akhirnya diputuskan lebih aman tinggalkan kampung Rambayan.

Kira-kira pukul 02.00, kami pergi pakai rakit bambu betung 7 batang yang bapak ikat dengan tali akar miding, 7 helai. Dengan sebatang galah bambu kami berangkat menyeberangi sungai menuju muara kuala Tebas.

Kasihan dua ekor anjing setia mengiring kepergian kami dengan lolongan mereka yang sangat memilukan. Malamnya kami tiba di Susteran Sambas.  Syukur kepada Allah, kami diterima para suster dengan penuh haru.

 

Makan di Dapur Susteran

Selama diterima oleh suster, kami pun bekerja di sana dengan diubah makan. Saya bersedia berbagi kisah ini, agar menjadi motivasi bagi generasi muda.

Sejarah berdirinya yayasan Amkur dan pertama kalinya persekolahan Katolik  di Sambas ditetapkan sebagai Yayasan Amal dan Kurban dan kemudian disingkat menjadi Amkur memang harus dipermaklumkan. 

Sebab selama ini semua orang, alumni Amkur tidak tahu cerita aslinya. Mereka tahunya hanya kepanjangan kata Amkur dan artinya berdirinya yayasan dan persekolahan Amkur karena adanya sumbangan para donatur dan para pemilik toko yang anaknya bersekolah di Amkur, itu saja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

X