Khutbah Jumat Introspeksi Diri di Akhir Tahun Paling Bagus. Ini Teks Khutbah Jumat Akhir Tahun Masehi 2022

photo author
Bima Kresna, Pontianak Globe
- Kamis, 29 Desember 2022 | 15:27 WIB
Ilustrasi berdoa memohon ampunan atas dosa. (Pixabay/Abdulkadir_Kalay)
Ilustrasi berdoa memohon ampunan atas dosa. (Pixabay/Abdulkadir_Kalay)

Sementara waktu khusus adalah saat ajal menjelang alias sakaratul maut. Karena itu, manakala ajal datang, maka tidak ada artinya taubat yang kita lakukan, berdasarkan firman Allah dalam surah an-Nisa’, Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) apabila ajal datang kepada seseorang di antara mereka, (QS. an-Nisa’ [4]: 18).

Hadirin sekalian,

Namun syarat-syarat di atas merupakan syarat taubat yang dosanya berkaitan langsung dengan hak Allah.

Sementara, jika dosanya menyangkut hak sesama manusia maka kita harus terlebih dahulu memohon maaf kepada yang bersangkutan atau kepada orang yang pernah kita zalimi, sebelum memohon ampunan kepada Allah.

Jika ada yang pernah kita rampas, maka segeralah kembalikan. Bagaimana jika yang bersangkutan sudah tiada dan sulit ditemui, maka banyak-banyaklah memohon ampunan untuknya.

Agar amal ibadah kita kelak tidak diambil oleh yang yang bersangkutan, sebagai penebus kesalahan kita.

Itulah perintah Allah kepada kita semua untuk bertaubat dan jangan pernah kita abaikan.

Sebab, tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali untuk kemaslahan para hamba-Nya.

Tidaklah Allah memerintahkan taubat kecuali untuk kebaikan kita semua agar segera menyadari kesalahan yang pernah diperbuat sekaligus sebagai salah satu cara memperbaiki keadaan.

Boleh jadi, kerusakan, bencana, musibah, malapetka, yang sedang menimpa kita atau saudara-saudara kita adalah akibat kesalahan, ulah tangan, dan pelanggaran kita terhadap tuntunan Allah dan rasul-Nya.

Asumsi ini tentu tidak berlebihan jika kita melihat salah satu firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ    

Artinya : “Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih,” (QS. an-Nur [24]: 63).

Hadirin rahimakumullah,

Begitulah cara Allah melindungi hamba-Nya dari kerusakan, baik kerusakan agama, jiwa, akal, keturunan, maupun harta. Sebab untuk tujuan itulah salah satunya syariat Islam diturunkan.  

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Bima Kresna

Sumber: jabar.nu.or.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X