Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian 12): Konsili Vatikan II Mengajak Orang Katolik Melakukan Pembaruan

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Kamis, 13 Oktober 2022 | 10:09 WIB
Tabernakel tersebut diperkirakan senilai sekitar 2 juta dolar AS yang dari diambil dari altar Gereja Katolik Roma St. Augustine di Brooklyn, New York, pada bulan Mei 2022. (The Christian Post)
Tabernakel tersebut diperkirakan senilai sekitar 2 juta dolar AS yang dari diambil dari altar Gereja Katolik Roma St. Augustine di Brooklyn, New York, pada bulan Mei 2022. (The Christian Post)

Kedua, Scott Hann menantang umat Katolik untuk mempelajari iman Katolik yang telah dipercayakan sebagai suatu warisan yang kudus. Sehingga, kita mengenal apa yang diimani serta mengerti mengapa mengimani.

Kitab Suci itu adalah Sabda yang diilhamkan oleh Allah dan tidak dapat salah yang ditulis untuk kita. Karena itu, setiap hari kita wajib membaca Kitab Suci, mempercayai kebenaran yang kita baca dan menanamkannya di dalam hati sehingga Allah dapat membuat tempat kediaman-Nya di dalam diri kita.

Inilah perjanjian kemana kita dipanggil untuk hidup sebagai saudara-saudari dalam keluarga Katolik Allah.

Kristus adalah makanan bagi jiwa kita. Tinggalkan diet yang menyebabkan kita mati dalam kelaparan (lihat: Consuming the Word: The New Testament and thhe Eucharist in the early Church).

Bersama dengan Alkitab, kita juga diajak untuk mempelajari kembali buku Katekismus Gereja Katolik dengan tuntas. Sangatlah diperlukan untuk menerapkan ajaran-ajaran Konsili Vatikan II. Buku ini merupakan ‘kunci menuju ke Konsili’.

Karena itu, kita harus melanjutkan pendalaman iman kita dengan mempelajari dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. Segarkanlah diri kita dengan “Roh Sejati Konsili” yang diambil langsung dari teks-teks dokumen tersebut.

Konsili Vatikan II, mengajak kita, orang Katolik, melakukan pembaruan. Tetapi, tamggapan terhadap ajakan itu masih tertunda.

Pembaruan itu seketika akan dimulai setelah orang Katolik biasa, kita ini, melakukan langkah-langkah yang mendasar tersebut.

Kembali setiap hari membaca Alkitab, mempercayai, dan menanamkan di dalam kehidupan sehari-hari. Dilanjutkan dengan mempelajari Buku Katekismus serta mendalami dokumen-dokumen Konsili Vatikan II.

Ketiga, Scott Hann mengingatkan kita sebagai orang Katolik yang menjalani hidup doa, belajar dan hidup sakramental seharusnya juga menjadi rasul-rasul aktif, dimana pun berada. Karena, pada tahun-tahun terakhir ini Gereja Katolik banyak kehilangan umatnya.

Scott Hann dan istri menitip pertanyaan yang perlu kita jawab dengan tindakan nyata.

“Apakah Tuhan meminta terlalu banyak dari orang Katolik untuk berbuat lebih banyak membantu saudara-saudara kita yang gagal bertemu dengan Tuhan yang mereka kasihi dalam sakramen Maha Kudus?”

Bila bila kita tidak melakukannya, lalu siapa yang mau. Semoga!

Pakem Tegal, 16 Agustus 2022

Sumber: Scott Hann and Kimberlly Hann. 1993. “Rome Sweet Home-our journey to Chatolicism”. San Francisco, Ignatius Perss.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Sumber: Catholic-the best way to Christ

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X