Kedua, Scott Hann menantang umat Katolik untuk mempelajari iman Katolik yang telah dipercayakan sebagai suatu warisan yang kudus. Sehingga, kita mengenal apa yang diimani serta mengerti mengapa mengimani.
Kitab Suci itu adalah Sabda yang diilhamkan oleh Allah dan tidak dapat salah yang ditulis untuk kita. Karena itu, setiap hari kita wajib membaca Kitab Suci, mempercayai kebenaran yang kita baca dan menanamkannya di dalam hati sehingga Allah dapat membuat tempat kediaman-Nya di dalam diri kita.
Inilah perjanjian kemana kita dipanggil untuk hidup sebagai saudara-saudari dalam keluarga Katolik Allah.
Kristus adalah makanan bagi jiwa kita. Tinggalkan diet yang menyebabkan kita mati dalam kelaparan (lihat: Consuming the Word: The New Testament and thhe Eucharist in the early Church).
Bersama dengan Alkitab, kita juga diajak untuk mempelajari kembali buku Katekismus Gereja Katolik dengan tuntas. Sangatlah diperlukan untuk menerapkan ajaran-ajaran Konsili Vatikan II. Buku ini merupakan ‘kunci menuju ke Konsili’.
Karena itu, kita harus melanjutkan pendalaman iman kita dengan mempelajari dokumen-dokumen Konsili Vatikan II. Segarkanlah diri kita dengan “Roh Sejati Konsili” yang diambil langsung dari teks-teks dokumen tersebut.
Konsili Vatikan II, mengajak kita, orang Katolik, melakukan pembaruan. Tetapi, tamggapan terhadap ajakan itu masih tertunda.
Pembaruan itu seketika akan dimulai setelah orang Katolik biasa, kita ini, melakukan langkah-langkah yang mendasar tersebut.
Kembali setiap hari membaca Alkitab, mempercayai, dan menanamkan di dalam kehidupan sehari-hari. Dilanjutkan dengan mempelajari Buku Katekismus serta mendalami dokumen-dokumen Konsili Vatikan II.
Ketiga, Scott Hann mengingatkan kita sebagai orang Katolik yang menjalani hidup doa, belajar dan hidup sakramental seharusnya juga menjadi rasul-rasul aktif, dimana pun berada. Karena, pada tahun-tahun terakhir ini Gereja Katolik banyak kehilangan umatnya.
Scott Hann dan istri menitip pertanyaan yang perlu kita jawab dengan tindakan nyata.
“Apakah Tuhan meminta terlalu banyak dari orang Katolik untuk berbuat lebih banyak membantu saudara-saudara kita yang gagal bertemu dengan Tuhan yang mereka kasihi dalam sakramen Maha Kudus?”
Bila bila kita tidak melakukannya, lalu siapa yang mau. Semoga!
Pakem Tegal, 16 Agustus 2022
Sumber: Scott Hann and Kimberlly Hann. 1993. “Rome Sweet Home-our journey to Chatolicism”. San Francisco, Ignatius Perss.
Artikel Terkait
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-1): Ricard Wood, Merasakan Dorongan Lembut untuk Berlutut dan Berdoa
Para Musyafir Pulang ke Roma (bagian-2): David Minirth Terpesona Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-3): Jack Amstrong Menjadi Percaya Setelah Mendalami Sejarah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-4): Bill Alkire dapat Pencerahan Setelah Berdebat dengan Pria Lusuh
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian 5): Bob Grodi Ketakukan Akhir Zaman, Temukan Pengakuan Dosa Alkitabiah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-6): Frank Howatt Menemukan Kedamaian, Merasa Nyaman, Damai, dan Teduh
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-7): Betty Dameron Segera Sadar Telah Menjadi Farisi Spritual