Ayat yang paling menyentak hati Frank adalah Matius 11:28. Frank Howatt merasa bahwa Yesus berbicara langsung kepadanya.
Sebuah isyarat panggilan bagi Frank Howatt agar lebih mendekat kepada Yesus. Berberapa bulan berikutnya, Frank Howatt selalu hadir di gereja Katolik di sekitarnya.
Namun, jalan spiritual Frank tidak lurus langsung ke arah Roma. Di suatu waktu Frank Howatt tergoda dengan suatu program siaran radio yang memberitakan bahwa doktrin-doktrin Gereja Katolik tidak alkitabiah. Sejumlah ayat pendukungnya dibacakan. Frank Howatt pun belok di tikungan itu.
Tetapi, studi Kitab Suci mandirinya selama tujuh tahun membantu Frank Howatt memahami keadaan yang sesuangguhnya. Studi ini ia teruskan walaupun telah berkeluarga dan bekerja.
BACA JUGA: Berminat Kuliah Magister di Inggris? Chevening Scholarship Bisa Dicoba, Tak Batasi Usia Penerima Beasiswa
Belum cukup. Frank Howatt pun mengambil S1 dan S2 di seminari ternama. Berbagai jabatan kunci di sejumlah denominasi ia duduki. Tetapi, panggilan kembali pulang ke Roma justru semakin bergema.
Melalui para mantan sahabat dalam pengembaraan, Gerry Hoffman, Bob dan Julie Swanson, Scott dan Kimberly Hann, Thomas Howard, serta Henry Newman, mendorong arah perjalanannya menuju Roma semakin jelas dan lurus.
Frank Howatt pun mulai memelajari buku-buku yang ditulis oleh para Bapa Gereja. Sejarah, ajaran, dan tradisi Gereja Katolik ia dalami.
Kini, Frank Howatt merasa telah menemukan Gereja Sejati-Gereja yang didirikan Yesus sendiri dan diwariskan kepada Petrus dan diteruskan oleh para Rasul, Paus serta Uskup yang telah melewati dua ribuan tahun yang masih tegak berdiri.
Peringgatan kawan sejawatnya Frank Howatt tanggapi dengan mantap. Kompas penunjuk arah semakin jelas telah muncul di depannya. Langkah kakinya semakin kokoh dan lurus menuju Roma.
Di dalam Rumah ini, Frank Howatt merasa nyaman, damai, dan teduh. Sepi dari kegaduhan mempertahankan kebenaran masing-masing.
Walau demikian, Frank Howatt, masih menyimpan rasa ingin tahu. Frank Howatt ingin jawaban dari pertanyaan, mengapa Tuhan sering membiarkan orang-orang yang ingin ‘merobohkan’ Rumah-Nya.
Apa jawabannya? Tuhan kadang-kadang, memang, tidak langsung menolak atau menghalangi, tetapi justru memenuhi apa yang diminta, dengan tujuan menghukum (Bil 11:18-20; Bil 16:1-dst; 1 Sam 8:1- dst).
Apakah kita juga pernah merasa bahwa Tuhan justru memberikan apa yang kita minta: kekayaan, kekuasaan, atau kenikmatan duniawi, bahkan sampai berlebih?
Artikel Terkait
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-1): Ricard Wood, Merasakan Dorongan Lembut untuk Berlutut dan Berdoa
Para Musyafir Pulang ke Roma (bagian-2): David Minirth Terpesona Familiaris Consortio, Paus Yohanes Paulus II
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-3): Jack Amstrong Menjadi Percaya Setelah Mendalami Sejarah
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-4): Bill Alkire dapat Pencerahan Setelah Berdebat dengan Pria Lusuh
Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian 5): Bob Grodi Ketakukan Akhir Zaman, Temukan Pengakuan Dosa Alkitabiah