Siapapun dia, Bapa Uskup selalu objektif melihat kasus untuk diselesaikan secara cepat demi melindungi lebih banyak orang. Bapa Uskup terbiasa duduk dengan anak kecil, masyarakat kampung, pengusaha, pejabat bahkan mereka pemangku kepentingan negara, kalaupun demikian Bapa Uskup tidak pernah sesekali tergoda untuk menuruti keinginan dari orang-orang 'penting yang punya kepentingan', sebab yang ada dibenaknya hanya satu yaitu 'kepentingan untuk kesejahteraan masyarakat dan umatnya'.
Tidak heran, sejak kedatangannya di Keuskupan Agung Pontianak tahun 2014, Uskup Agustinus merombak dan membenahi baik dari dalam maupun dari luar manajemen Keuskupan dengan sistem yang transparan. Ditambah mimpi Universitas Santo Agustinus dari Hippo Keuskupan Agung Pontianak yang ia pikirkan untuk masa depan anak-anak kampung.
Kemampuan kepemimpinannya ampuh mempengaruhi orang-orang baik (donatur, pemerintah, pejabat, pemangku kepentingan dan masyarakat) dengan visi misi yang sama untuk memanusiakan manusia secara nyata bukan sekedar teori dalam benak pikiran. Oleh karenanya kejutan mutiara yang terungkap pada momen-momen unik itu menjadi sebuah peristiwa sejarah iman dari teladan sang Uskup dari Kampung itu. Mutiara kata tidak lagi menjadi sebatas kata, tetapi sudah melebur menjadi kekuatan bagi orang-orang yang pernah mengenalnya secara langsung maupun orang yang hanya berkesempatan untuk membaca buku dan mengayati kata-kata bijaknya dalam buku ini.
Empati
Jika ditilik secara lokal, empati dalam kalangan orang-orang Dayak dapat ditemui dalam setiap momen kehidupan. Misalnya kebudayaan Dayak di daerah Kalimantan Barat sendiri memperlihatkan dengan jelas praksis empati kalau ada kematian di mana satu kampung berbondong-bondong untuk menumbangkan beras, gula, kopi dan kebutuhan lainnya untuk mereka yang berduka.
Pada acara pernikahan, orang 'kampung' dengan sendirinya ikut terlibat untuk membantu karena mereka merasa kegiatan ini adalah bagian dari tanggungjawab mereka. Kalau suatu keluarga terdampak bencana, begitulah korelasi kerja yang berkelanjutan (dalam hal ini adalah empati), mereka bekerja sama dan tolong menolong.
Semua praksis empati yang dilakukan tidak ada unsur kompensasi atau digaji sekalipun yang ditolong itu adalah keluarga yang berada. Disisi lain, empati juga tidak datang begitu saja. Ia adalah kemampuan alamiah manusia, namun tetap harus dikembangkan melalui pola asuh dari orang tua, pola didik dari sekolah, dan pola teladan dari lingkungan sosial. Dengan kata lain, empati harus menjadi suatu gerakan bersama seluruh masyarakat dengan pemerintah sebagai teladannya.
Contoh praksis empati ini sama dengan apa yang disampaikan oleh Uskup Agustinus tentang perhatian beliau pada kaum kecil. Mereka adalah yang tinggal dipedalaman dan hampir tidak memiliki akses untuk menikmati perkembangan teknologi. Dalam setiap perjalanan pastoral Uskup Agustinus ke pedalaman untuk melayani umat Katolik Maupun yang non-Katolik, beliau selalu mengingatkan melalui homilinya untuk tetap mengasah kepekaan hati agar mereka memiliki kemampuan melihat dan turut merasakan penderitaan orang lain. *