Oleh: Leo Sutrisno
Kali ini adalah kisah spritual spiritual Scott Hann dan istrinya (Kimberlly) kembali ke Gereja Katolik Roma. Ia sebelumnya bukan pemeluk Katolik, namun perjalanan waktu membuat ia bergabung ke Katolik Roma.
Perjalanan spiritual Scott Hann dan istrinya (Kimberlly) kembali ke Gereja Katolik Roma, menerima banyak perhatian baik dari kalangan orang Katolik maupun dari kalangan mereka yang anti-Katolik.
BACA JUGA: Santo Paus Yohanes XXIII Pencetus Konsili Vatikan II
BACA JUGA: Doa Santo Kenneth Selamatkan Santo Kolumbanus dari Amukan Badai di Lautan
Scott Hann menggambarkan kisah penziarahannya, dimulai ‘sebagai cerita detektif”.
Tetapi, kemudian berubah menjadi ceritera horor, hingga menjadi kisah percintaan dengan Kristus yang dengan ‘pelit’ membuka selubung wajah-Nya, sebagai Sang Mempelai.
Pria kelahiran 20 Oktober 1957 ini adalah seorang apologet Kristen, profesor, penulis kontemporer dan teolog awam Katolik yang terkemuka di AS.
Sebelum menjadi anggota Gereja Katolik Roma, ia adalah seorang pendeta Presbiterian yang terpandang.
Scott Hann juga dikenal sebagai peneliti tentang kekritenan awal di zaman apostolik. Banyak makalahnya membahas tentang para Bapa Gereja Awal.
Karya kontemporer yang menjadi ‘best seller’ adalah Rome Sweet Home. Buku Scott Hann yang berjudul The Lamb’s Supper: The Mass as heaven on Earth serta Consuming the Word: The New Testament and thhe Eucharist in the early Church sangat layak untuk menjadi bacaan umat Katolik.
Karena pemikiran Scott Hann tentang ajaran dan doktrin Gereja Katolik telah beredar luas baik dalam bentul makalah, video, maupun audio, maka tulisan ini tidak menyajikan kisah perjalanan penziarahan itu. Tetapi, berisi sejumlah pesan Scott Hann sebagai reflektor untuk umat Katolik.
Pertama, dikatakan bahwa, pada umumnya, para pengikut Evangelis yang pindah ke Gereja Katolik mengalami ‘kejutan budaya gereja’.
Mereka meninggalkan cara menyanyi umat yang bersemangat, kotbah praktis yang alkitabiah, serta berbagai aktivitas umat yang sangat prokeluarga.
Tetapi, karena paroki-paroki Katolik sering kurang memiliki kegiatan yang seperti itu, maka mereka merasa belum berada di dalam rumah sendiri.