Oleh: Leo Sutrisno
Perjalanan pulang kembali ke Roma, Frank Howatt, menurutnya, karena Gereja Katolik sangat setia kepada Kitab Suci.
Ia menemukan bahwa dalam Gereja Katolik penafsiran Kitab Suci sangat masuk akal dan dapat dipercaya.
Disebut pulang kembali karena Frank Howatt dilahirkan dari keluarga Katolik. Sakramen Krisma dan Sakramen Ekaristi telah diterima pada usia sekolah dasar.
Frank Howatt belajar di sekolah Katolik sampai tingkat menengah atas. Bahkan, di masa remajanya pernah berpikir menjadi pastor.
Berpaling ke kehidupan non-Katolik dimulai ketika masuk perguruaan tinggi. Ibarat kuda lepas kandang, Frank Howatt merasa lepas dari ‘tekanan’ lingkungan bersuasana Katolik. Frank Howatt bergabung dengan gaya hidup sebagian orang muda AS kala itu, New Era.
BACA JUGA: Sejumlah Penyakit yang Erat dengan Hidung Tersumbat
Suatu waktu, 1975, dalam obrolan ‘ngalor-ngidul’ sesama teman mahasiswa, Frank Howatt mengatakan bahwa kedatangan-Nya yang kedua, kelak, Yesus akan menikah.
Pernyataan ini membuat sebagian temannya tidak nyaman dan menantang agar Frank menunjukkan ayat di Kitab Suci yang menguatkan pendapatnya.
Tantangan itu mendorong Frank mulai mempelajari Kitab Suci dengan intensif. Diawali dengan mempelajari Perjanjian Baru.
Frank Howatt terkejut ketika mendapati bahwa Yesus sangat cerdas dalam menghadapi jebakan musuh-musuh-Nya.
Misalnya, Yesus berkata, ‘Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah’ (Mark 12:17, Mat 22:21) atau ‘barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama yang melemparkan batu...’ (Yoh 8:7)
Selain kagum atas kecerdasan Yesus, Frank Howatt merasa tertusuk hatinya atas belas-kasih dan cinta Yesus kepada orang lain, kapan pun dan dimana pun.
Bahkan, ketika Yesus di atas Salib dan mendekati kematian-Nya. Yesus lebih peduli kepada orang lain lebih ketimbang kepada diriNya sendiri.