religi

Para Musyafir Pulang ke Roma (Bagian-3): Jack Amstrong Menjadi Percaya Setelah Mendalami Sejarah

Sabtu, 24 September 2022 | 06:30 WIB
Sebuah gereja Katolik di India yang dibangun di tengah perkebunan kelapa.

Oleh: Leo Sutrisno

Jalan pulang ke Roma yang dilalui si musyafir ini, Jack Amstrong, dapat diringkas dalam satu kalimat saja, yaitu: ‘masuk lebih jauh ke dalam sejarah (Gereja)’.

Semula Jack Amstrong adalah satu dari sejumlah orang yang anti-Katolik tetapi akhirnya justru masuk Katolik.

Jack Amstrong dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga non-Katolik. Di usia remaja, seperti banyak remaja di era 1960-an, Jack Amstrong pun juga terhuyung-huyung mengarungi di dunia pemberontakan ala remaja. Beberapa tahun ia ‘menikmati’ gaya hidup hedonis.

Syukurlah, di umur 20 tahun berbalik, secara radikal meninggalkan kehidupan hura-hura, dan mulai menapaki jalan kepada Yesus melalui doa dan studi. Kehidupannya sebagai seorang sajana teknik ditinggalkan.

BACA JUGA: Livy Renata Dilarikan ke UGD Seusai Santap Makanan Kaki Lima Tutut, Gak Nyangka Perutku Lebai Banget

BACA JUGA: Berminat Kuliah Magister di Inggris? Chevening Scholarship Bisa Dicoba, Tak Batasi Usia Penerima Beasiswa

Kembali ke kampus ia mendaftar program master pada Gordon-Cowell Theological Seminary di Boston.

Dengan menyandang gelar magister teologi ia memulai kegiatan pelayanan’ sebagai pendeta dalam sebuah denominasi. Kotbah pendeta muda ini sangat disenangi banyak orang. Umat berkembang pesat.

Namun, seiring dengan perjalanan waktu dan spiritualnya, muncul dalam hati berbagai pertanyaan baik yang terkait dengan teologi maupun administrasi kegerejaan.

Di antaranya adalah, bagaimana cara menafsirkan dengan benar teks-teks Kitab Suci yang sulit? Bagaimana cara menentukan tafsiran yang benar? Bagaiamana cara meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikotbahkannya benar? Serta apa kebenaran itu?

Jack Amstrong merasa studinya di seminari belum cukup memberi bekal untuk menghadapi masalah-masalah itu. Jawaban teman dan para seniornya juga belum memberikan kepastian.

Yang ditemukan justru pernyataan bahwa setiap pendeta harus memutuskan sendiri masalah yang dihadapinya. Sebuah pernyataan yang mengacu pada doktrin ‘sola scriptura’ dan ‘sola fide’.

Masalah-masalah itu dianggapnya sebagai jalan yang dipilihkan Tuhan baginya. Laku doa dan studi terus dijalani dengan tekun.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6).

Halaman:

Tags

Terkini