religi

Romo Paschal kepada Peserta INFO JPIC di Pontianak: Kita Tak Boleh Diam Terhadap Human Trafficking

Selasa, 22 Agustus 2023 | 16:53 WIB
Foto dari kiri ke kanan Suster Kristina Fransiska CP, Romo Paschal, dan Suster Laurentina SDP, saat pertemuan INFO Indonesia di Pontianak, Senin, 22 Agustus 2023. (Pontianak Globe/Komsos KAP @Samuel OFS)

Di akhir sesi itu para peserta diberi kesempatan untuk berdiskusi dan menilik beberapa kasus perdagangan manusia yang pernah terjadi di Indonesia.

Romo Paschal juga menggarisbawahi ada beberapa trend perdagangan manusia mulai dari dalam negeri hingga luar negeri.

Eksploitasi anak dan dewasa, pengantin pesanan dan lain lain seolah sudah menjadi hal yang biasa.

Bagi sebagian orang, agen penyalur TKI yang memiliki legalitas dianggap memiliki proses yang lebih rumit dari segi teknis maupun administrasinya.

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para mafia perdagangan orang untuk membuka pintu dengan menawarkan kemudahan.

“Fenomena ini juga didukung dengan target sasaran korban yang rentan secara ekonomi sehingga mudah untuk ditipu,” tambah Romo Paschal.

 

Kekejaman Manusia

Di tengah materi Romo Paschal, ada juga dua kesaksian sahabat inspiratif dalam memperjuangkan hak kemanusiaan.

Pertama, Suster Laurentina SDP alias Suster Kargo, menjadi panggilan unik yang diberikan kepadanya karena kiprah dalam membantu pemulangan imigran dari dalam dan luar negeri yang menjadi korban dari perdagangan manusia di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pengalamannya bersama rekan-rekannya menjemput jenazah korban di bagian kargo Bandara El Tari Kupang, dan mengurus administrasi bandara untuk membantu menghubungkan korban dan keluarga.

Kesaksian itu adalah bentuk nyata perjuangan pengikut Kristus dalam membela dan membina para korban perdagangan manusia. Memang hal itu tidak selalu berjalan mulus, banyak tantangan dihadapi seperti identitas yang tidak jelas, dokumen administrasi tidak lengkap bahkan ilegal, dan masih banyak lagi.

"Saya pernah menerima korban hidup tanpa identitas yang sudah kurang lebih 14 tahun tidak bertemu dengan keluarganya, namun ketika ditanya asal dan alamatnya dia hanya menjawab di belakang rumahnya ada pohon asam,” kata Suster Laurentina SDP.

Dia menambahkan bahwa potensi Human Trafficking terjadi di mana-mana terutama daerah yang secara ekonomi terbilang kurang mampu. Akibatnya saat diberikan sedikit iming-iming oleh para mafia tersebut disanalah perdagangan orang terjadi. Mereka yang tidak tahu apa-apa tentang itu tergiur dengan kesempatan bekerja di luar negeri.

Kedua, Suster Kristina Fransiska CP, seorang Suster asli Kalimantan memulai perjuangannya untuk membela korban-korban human trafficking sejak bertugas di Keuskupan Malang.

Halaman:

Tags

Terkini