Seperti ayam yang berdiri tinggi dan kokoknya terdengar jauh, umat pun diajak menjadi pewarta Injil, menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut.
Baca Juga: Mengenal Kaiserslautern, Klub Ikonik Jerman yang Lahirkan Michael Ballack dan Fritz Walter
Penempatan ayam di puncak menara juga memiliki arti: pengingat dari tempat tertinggi.
Dari sana, ia “menatap” umat setiap hari, seolah berkata: “Jangan ulangi kesalahan Petrus, tetaplah setia meski dalam tekanan.”
Di era modern, simbol ini mungkin terlupakan atau dianggap sekadar ornamen arsitektur.
Padahal, ayam jantan di gereja membawa pesan mendalam, baik untuk mereka yang jatuh dalam dosa, mereka yang tertidur secara rohani, maupun mereka yang rindu untuk kembali menjadi pewarta kebenaran.
Saat Anda melihat seekor ayam jantan di menara gereja, ingatlah: itu bukan hiasan biasa.
Ia adalah simbol hidup dari pertobatan, kewaspadaan, dan kesetiaan dalam iman. Simbol yang mengajak kita untuk bangkit, seperti Petrus, dan melanjutkan perjalanan iman dengan penuh harapan. ***