PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Jika Anda pernah memperhatikan menara gereja tua, terutama di Eropa atau dalam arsitektur bergaya kolonial, Anda mungkin pernah melihat seekor ayam jantan berdiri tegak di puncaknya.
Bukan patung Yesus, bukan salib, tetapi ayam.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Laptop Pendidikan, Kejagung Telusuri Peran Google dalam Proyek Chromebook
Lalu, apa sebenarnya makna simbolik dari ayam jantan ini?
Simbol ayam jantan dalam gereja Kristen berasal dari kisah terkenal dalam Alkitab, ketika Rasul Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok.
Saat ayam itu berkokok, Petrus langsung tersadar dan menangis tersedu-sedu karena penyesalannya yang mendalam (Lukas 22:61-62).
Dari kisah inilah, ayam jantan menjadi simbol pertobatan dan kesadaran diri.
Ia mengingatkan umat akan kelemahan manusia dan kasih Allah yang selalu membuka pintu pengampunan.
Ayam jantan juga dikenal sebagai makhluk yang selalu berkokok menyambut fajar.
Baca Juga: Selebgram Indonesia Ditahan di Myanmar, Puan Minta Pemerintah Bergerak Cepat
Dalam tradisi gereja, ini melambangkan kewaspadaan spiritual.
Sebagaimana ayam membangunkan dunia saat subuh, umat Kristiani diajak untuk terjaga dalam doa, selalu siap menghadapi godaan, dan tidak terlena dalam “tidur rohani”.
Penunjuk Arah dan Pewarta
Menariknya, banyak gereja menempatkan ayam jantan dalam bentuk weathercock (penunjuk arah angin).
Fungsi ini bukan hanya teknis, tapi juga simbolis.