PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Budayawan Dayak dan sekaligus tokoh muda, Yohanes S Laon, menyebutkan konsep pemimpin dalam budaya Dayak itu unik, khas, dan berbeda dengan konsep pemimpin dalam budaya bangsa lain, yg sering memberikan gambaran dengan sifat Tuhan seperti berkuasa, menentukan nasib orang lain, menghakimi, menghukum, dan sebagainya.
Ia mengatakan spiritualitas Dayak tidak pernah menggambarkan pemimpin dengan konsep sebagai sosok hebat di atas kursi kekuasaan yg bebas melakukan apa saja terhadap orang lain.
"Seperti menguji, memerintah, melarang, menghukum atau memberikan hadiah dengan berbagai atribut serta perilaku yang lainnya. Intinya pemimpin bukan makhluk dgn sifatnya yg dipenuhi ego," kata penulis buku Novel Sejarah: Patih Gumantar-Perang Pengayau dan Jejak Gunung Emas dengan nama pena Garege Takus tersebut.
Ia mengatakan, dalam spiritualitas Dayak, sosok pemimpin sering disebut dengan orang mampu melaksanakan Pintu Raja.
Konsep ini bersifat abstrak dan universal berbeda dengan konsep tentang pemimpin sebagai sosok yang bersifat penuh ambisi yg arogan
Itulah sebabnya dalam spiritualitas Dayak tidak ada istilah menyenangkan pemimpin, memperjuangkan pemimpin, membela pemimpin, ataupun bahkan berperang atas nama pemimpin, karena pemimpin dipahami sebagai Sumber, Dasar dan Tujuan dari segala inspirasi, kekuatan kehidupan organisasi itu sendiri.
"Dia seperti matahari, seperti bulan, seperti angin, seperti bumi, seperti lautan, seperti api, seperti langit dan seperti bintang," kata Yohanes S Laon.
Baca Juga: Gong Berkumandang, Gawai Dayak XI di Sintang Kalbar Resmi Dimulai
Ditambahkan, sayangnya pada akhirnya tidak sedikit dari pemimpin dan pendukungnya kemudian berkembang menjadi arogan, ekspansif dan bahkan ingin menghilangkan, bahkan mengusir para penghuni dari organisasi yg telah dibangun bersama.
Spiritualitas Dayak juga tidak pernah bicara tentang usaha mendominasi untuk menguasai dan mengatur seluruh anggota organisasi ke dalam satu sistem yg seragam dan sama.
Spiritualitas Dayak menghargai keragaman dan perbedaan secara sebenarnya, bukan basa-basi di mulut saja.
Karena sifatnya yg demikian, maka spiritualitas Dayak juga tidak sibuk mengatur tentang setiap ungkapan kata2 para anggota, melainkan sekedar berusaha membangkitkan kesadaran anggota, agar dg kesadaran diri itu anggota bisa menjaga organisasi dengan lebih baik.
Spiritualitas Dayak juga tidak menciptakan sistem dan lembaga yg cenderung akan menciptakan penjara baru bagi anggotanya.