Tidak menciptakan dokumentasi yg mati dan kaku karena menyadari bahwa aturan organisasi letaknya ada di hati nurani dan sanubari anggota yg terdalam, karena di situlah anggota akan bisa memahami pemimpin yang sejati dan bukan pemimpin yang sekedar sebagai "berhala mental" saja.
Spiritualitas Dayak juga tidak menciptakan teror, menakut-nakuti, maupun ancaman, juga tidak ingin menciptakan perbudakan terhadap anggotanya berdasarkan ancaman dan rasa takut.
"Hanya ada "rasa dirik rasa dangan", karena konsep ini adalah sifat dan hakikat pemimpin Dayak yang sejati. DIRASA, DIROSO, DITARAH, DIKAKAPI'," ujar penulis buku Kerajaan Bangkule Rajakng tersebut
"Semoga budaya yang begitu luhur dan indah dari leluhur tanah Dayak ini yg telah diakui sebagai budaya Indonesia, tidak dilupakan begitu saja oleh anak cucunya sendiri dan wajib bagi kita untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman budaya yang maha Agung ini pada anak cucu kita sebagai pewaris dan penerus Kehidupan manusia Dayak di Nusantara tercinta," papar Yohanes S Laon. ***
Artikel Terkait
Yohanes Supriyadi, Pegiat Literasi dan Budaya Maju ke DPR RI. Mewakili Kaum Muda Progresif dan Kaum Marginal
Yohanes Supriyadi: Dayak Keninjal Tuan Rumah Gawai ke-37 Kalbar. Raja Ulu Aik Direncanakan Ikut Hadir
Ketua DAD Pontianak Barat Minta DAD Hadir di Tengah Masyarakat. Yohanes Supriyadi Diusulkan Maju Sebagai Ketua
Ulang Tahun Ketiga, Bala Pangayo Gelar Seminar Budaya Dayak. Begini Kata Pegiat Budaya Yohanes Supriyadi
Yohanes Supriyadi SE: Memperjuangkan Pencabutan Moratorium dan Pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) di Kalimantan Barat
Bikin Merinding! Begini Profil Tri Natalia Urada, Perempuan Dayak Asal Toho Kalbar Mendapat Tugas Baca Doa Umat di Hadapan Paus Fransiskus