Budayawan Dayak Yohanes S Laon Sebut Prinsip Kearifan Pemimpin dalam Spiritualitas Dayak, Melampaui Kekuasaan dan Ambisi

photo author
Steve Vantax, Pontianak Globe
- Sabtu, 14 September 2024 | 22:00 WIB
Yohanes S Laon, Budayawan Dayak dan sekaligus tokoh muda. (Dok. Pontianak Globe)
Yohanes S Laon, Budayawan Dayak dan sekaligus tokoh muda. (Dok. Pontianak Globe)

Tidak menciptakan dokumentasi yg mati dan kaku  karena menyadari bahwa aturan organisasi letaknya ada di hati nurani dan sanubari anggota yg terdalam, karena di situlah anggota akan bisa memahami pemimpin yang sejati dan bukan pemimpin yang sekedar sebagai "berhala mental" saja.

Spiritualitas Dayak juga tidak menciptakan teror, menakut-nakuti, maupun ancaman, juga tidak ingin menciptakan perbudakan terhadap anggotanya berdasarkan ancaman dan rasa takut.

"Hanya ada "rasa dirik rasa dangan", karena konsep ini adalah sifat dan hakikat  pemimpin Dayak yang sejati. DIRASA, DIROSO, DITARAH, DIKAKAPI'," ujar penulis buku Kerajaan Bangkule Rajakng tersebut

"Semoga budaya yang begitu luhur dan indah dari leluhur tanah Dayak ini yg telah diakui sebagai budaya Indonesia, tidak dilupakan begitu saja oleh anak cucunya sendiri dan wajib bagi kita untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman budaya yang maha Agung ini pada anak cucu kita sebagai pewaris dan penerus Kehidupan manusia Dayak di Nusantara tercinta," papar Yohanes S Laon. ***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Steve Vantax

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X