Pemerintah mengatakan bahwa penggusuran dilakukan karena penduduk menempati tanah yang dianggap kosong tanpa hak tinggal.
Baca Juga: Mengupas Mpox atau Cacar Monyet Varian, Gejala, dan Langkah Pencegahan di Indonesia
Ada juga kritik mengenai pengeluaran besar untuk kunjungan Paus, termasuk biaya untuk altar baru yang mencapai US$1 juta.
Hal ini menjadi perhatian mengingat hampir separuh penduduk Timor Leste hidup di bawah garis kemiskinan nasional.
Ini adalah kunjungan pertama Paus ke Timor-Leste sejak kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989, ketika negara tersebut masih berada di bawah pendudukan Indonesia.
Populasi Katolik di Timor Leste kini mencapai 97 persen, meningkat pesat dari hanya sekitar 20 persen saat Indonesia menginvasi pada tahun 1975.
Paus Fransiskus dijadwalkan menyelesaikan lawatannya di kawasan ini di Singapura pada akhir minggu.
Baca Juga: Haornas 2024 Menggugah Semangat Olahraga Nasional Menuju Prestasi Dunia
Dalam kunjungannye ke Dili, Timor Leste di Instagram-nya @franciscus Paus Fransiskus menulis:
I entrust Timor-Leste and all its people to the protection of Our Lady of Aitara. May she accompany and aid you always in your mission to build a free, democratic and united country, where no one feels excluded and everyone can live in peace and dignity.
Selaon dalam bahasa Inggris kalimat itu juga ditulis dalam bahasa Spanyol, Portugal, Tetum -- bahasa Timor Leste, Perancis, serta Jerman.
Jika diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia artinya kira:
Saya mempercayakan Timor-Leste dan seluruh rakyatnya kepada perlindungan Bunda Aitara. Semoga Dia selalu mendampingi dan membantu Anda dalam misi membangun negara yang bebas, demokratis, dan bersatu, di mana tidak ada yang merasa terpinggirkan dan semua orang dapat hidup dalam kedamaian dan martabat.***