religi

Satu Meja Bersama Santo Dominikus

Kamis, 8 Agustus 2024 | 15:16 WIB
Table of Saint Dominic by Anonymous. Date 14th Century Stock Photo - Alamy (2024)

PONTIANAKGLOBE.COM| Kamis 08 Agustus 2024 – Malam itu, dua saudara yang dikirim untuk mencari makanan tidak membawa apa-apa untuk dimakan.

Para Dominikan awal mendapat makanan dari mengemis. Sebenarnya, mereka memperoleh sedikit makanan. Tetapi dalam perjalanan pulang, mereka bertemu seseorang yang kelaparan. 

Tergerak oleh belas kasihan, mereka memberikan makanan yang mereka kumpulkan pada orang tersebut dan berjalan pulang dengan tangan hampa.

Dominikus tidak menjadi sedih menyaksikan hal tersebut. Dengan sukacita, dia memanggil saudara-saudara untuk berkumpul di meja makan. Setelah mereka semua duduk di meja, dia mengajak mereka untuk mengucap syukur dan memuji Tuhan. Puji-pujian yang mereka panjatkan dengan sukacita menghapus kesedihan karena tidak ada makanan saat itu.

Tiba-tiba, dua orang berpakaian putih masuk membawa dua bakul roti. Mereka membagikan roti ke piring masing-masing.

Kemudian mereka melayani saudara-saudara sampai semua selesai makan lalu menghilang. Kisah ini menjadi mujizat pertama Dominikus di hadapan saudara-saudaranya.

Menjadi satu meja bersama Dominikus, kita diundang untuk mempersembahkan diri kita bagi saudara-saudari kita. Persembahan tidak melulu berbentuk materi.  Kita mungkin malahan tidak memiliki apa-apa untuk dibawa dan disajikan.

Tapi kita turut diundang meski kita tidak punya apa- apa. Seperti apa yang dilakukan Dominikus ketika mengetahui mereka tidak memiliki makanan untuk dimakan malam itu, dia memanggil mereka untuk berkumpul.

“Mari, kita siapkan mejanya!”  Ketika kita diundang, bukan karena apa yang kita punya tetapi siapa pribadi kita. Our presence becomes a present. Kehadiran kita mejadi sumber sukacita bagi yang punya hajat.

Dia tidak mengharapkan buah tangan kita. 

Dia sudah menyiapkan sukacita untuk dibagikan bersama kita di meja. Dia bahkan tidak menolak jika kita membawa kesedihan ke atas meja.

Mengikuti kata-kata Yesus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” 

Dominikus dengan lantang mengundang kita untuk mempersembahkan kesulitan, kesedihan, ketidakberdayaan kita untuk kita bagikan bersama saudara-saudara dalam perjamuan.

Dominikus mengucap syukur dan memuji Tuhan di meja.  Segala sesuatu yang tersedia di meja dipersembahkan kepada Tuhan.

Halaman:

Tags

Terkini