religi

Umat Kristen Myanmar Merayakan Natal dengan Hening saat Serangan Pemberontak Terus Berlanjut

Senin, 1 Januari 2024 | 16:55 WIB
Dekorasi Natal dipajang di Yangon, Myanmar. (vaticannews-va)

Seperti dilansir kantor Berita Uca, di negara bagian Kachin, Kayah, Chin dan Karen, umat Katolik memutuskan untuk merayakan Natal tanpa suara untuk menunjukkan solidaritas terhadap mereka yang kehilangan tempat tinggal akibat perang.

Perayaan Natal tidak terlalu meriah di kota-kota besar lainnya seperti Mandalay dan Yangon.

Krisis Rohingya
Sementara itu, ketika perang berkecamuk di Myanmar, ratusan ribu orang Rohingya yang tidak memiliki kewarganegaraan terpaksa meninggalkan rumah mereka di Negara Bagian Rakhine, Myanmar karena apa yang disebut “operasi pembersihan” yang dilakukan oleh militer pada tahun 2016 dan 2017, dan terus mengungsi ke negara yang lebih aman.

Baca Juga: 2024 Merupakan Tahun Naga Kayu, 6 Shio Ini Jadi Crazy Rich

Kudeta militer tahun 2021 telah berdampak besar terhadap populasi Rohingya di Myanmar dan meningkatkan kerentanan mereka.

Kebanyakan dari mereka mengungsi ke negara tetangga Bangladesh, tempat hampir satu juta orang hidup dalam kondisi yang memprihatinkan di kamp-kamp pengungsi.

Beberapa dari mereka juga mencoba melarikan diri ke negara-negara Asia lainnya, mengambil risiko besar, termasuk penyeberangan laut yang berbahaya, namun mereka telah diusir oleh Malaysia, Thailand, dan sekarang Indonesia.

Indonesia mendorong kembali etnis Rohingya di tengah meningkatnya kebencian terhadap penduduk setempat.

Baca Juga: Real Madrid Berniat Merekrut Kembali Bintang Muda Girona Seharga €8 Juta Musim Panas Mendatang

Hingga saat ini, Indonesia dikenal sebagai negara yang menyediakan tempat berlindung yang aman bagi etnis Rohingya.

Namun, peningkatan kedatangan perahu secara tiba-tiba dalam beberapa minggu terakhir telah memicu kebencian yang semakin besar di Provinsi Aceh.

Awal pekan ini sekelompok mahasiswa dilaporkan menyerbu ruang bawah tanah balai masyarakat setempat di ibu kota Banda Aceh, tempat sekitar 137 warga Rohingya berlindung dan menyerukan agar kelompok tersebut dideportasi.

UNHCR, Badan Pengungsi PBB, mengatakan pihaknya “sangat terganggu” dengan insiden tersebut.

Baca Juga: Real Madrid Kembali Tawarkan Mbappe Kontrak Fantastis

Meningkatnya permusuhan terhadap Rohingya telah memberikan tekanan pada pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk mengambil tindakan dan pada hari Rabu TNI Angkatan Laut Indonesia mendorong kembali sebuah kapal yang membawa pengungsi Rohingya mendekati pantai provinsi tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini