Dia juga mengukuhkan umat untuk tetap mengandalkan Tuhan apapun kondisinya. Sebagai lanjutan dari itu, Uskup Agustinus menggarisbawahi bahwa dalam ajaran Gereja Katolik terdapat rumusan iman kepada Kristus. Rumusan itu tidak lain merupakan rangkaian doa dalam kutipan syahadat para rasul dalam baitnya.
“‘Aku percaya akan Roh Kudus, persatuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan dan kehidupan kekal.’ Ini sangat jelas dikatakan bahwa kebermaknaan hidup kita dimulai dari penghayatan akan penderitaan hingga kematian agar menuju pada harapan untuk kehidupan kekal,” pungkas Uskup Agustinus dalam perayaan misa usai pemberkatan.
Iman yang terukir
Sebastianus Darwis yang sejatinya memiliki perhatian khusus untuk rumah ibadah apapun, selalu berpesan hal yang sama yakni jangan biarkan rumah ibadah itu kosong. Susah payah dibangun dengan gotong royong baik antara donatur dan umat, ataupun pemerintahan dan paroki.
Menurut Darwis keberadaan gereja ini menjadi rangkaian perjalanan iman yang akan terukir di Trans SP II Bengkayang.
Untuk itu, memang perlu dibuat sebuah rumah ibadah yang cukup menampung umat yang tinggal dan menetap di stasi ini.
“Sebagai hadiah natal, saya juga sedang mengerjakan aliran listrik untuk daerah ini. Tapi ingat, jangan biarkan gereja kosong,” kata Darwis dalam sambutannya (09/12).
Kegiatan hari itu dibumbui dengan kehadiran umat lain, baik Protestan maupun Islam.
Hari itu tampak jelas bukan soal pagar yang dikaitkan dengan agama lagi, melainkan ini bicara tentang persaudaraan dalam kemanusiaan yang kebetulan berbeda agama.
Untuk wilayah ini, jelas sekali perbedaan agama bukan menjadi masalah, tetapi justru sebagai rajutan kekuatan saudara dalam perbedaan keyakinan.