Gotong Royong dan Iman, Perjalanan Masyarakat Trans SP. II dalam Membangun Gereja Katolik

photo author
Jans Angkamor Bong, Pontianak Globe
- Selasa, 12 Desember 2023 | 13:00 WIB
Uskup Agustinus memberkati dalam Gereja, didampingi Pastor Paroki Joseph OFMCAap (Samuel)
Uskup Agustinus memberkati dalam Gereja, didampingi Pastor Paroki Joseph OFMCAap (Samuel)

PONTIANAKGLOBE.COM, Bengkayang- Jejak titian jalan dengan bumbu rontok gerigi jalan, membuat perjalanan menuju lokasi Trans SP. II di dareah Kabupaten Bengkayang lumayan terasa panjang.

Ada mobil yang terjebak dibawah lubang kubahan air, ada juga motor yang terperangkap oleh bubur jalan.

Daerah ini memang sejatinya berada diwilayah Kabupaten Bengkayang oleh sebab itu, tak heran Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis menaruh perhatian khusus kepada setiap daerah-daerah terpencil diwilayahnya.

Dengan momen dan kesempatan itu tak heran jika Darwis turut hadir dalam kegiatan Uskup Agustinus untuk memberkati Gereja Katolik Santo Marius Trans SP. II yang berada di Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang pada 09 Desember 2023.

Dalam sambutan Pastor Paroki Pastor Joseph Juwono, OFMCap mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembangunan gereja ini.

“Selama kunjungan saya di stasi ini, saya merasakan sebuah kerinduan yang besar dari umat untuk memiliki gereja. Sebagai penduduk trans dari berbagai tempat, kerinduan dan kehausan itu kini mereka buktikan dengan gotong royong membangun gereja stasi ini,” kata Pastor Joseph Juwono OFMCap.

Gereja Minimalis yang elegant

Pemberkatan dilakukan langsung oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan diresmikan oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis
Pada pukul 10.00 wib dengan alunan musik tradisional khas Dayak Kanayatn maka seperti acara sakral yang lainnya, ada dilakukan penyambutan tarian pembukaan oleh Orang Muda Katolik (OMK) yang datang dari stasi Capkala untuk turut berpartisipasi.

Uskup Agustinus didampingi oleh Bupati Bengkayang beserta istri, dan seluruh umat mulai memasuki Stasi Santo Marius usai pemotongan bambu oleh Uskup Agung Pontianak.

Dalam pengakuannya, Uskup Agustinus dengan terang-terangan mengatakan Gereja itu tidak terlalu besar, namun ada serasi antara warna dan bentuk gereja yang dibuat oleh tangan-tangan kasih yang terlibat didalamnya.

Dengan cat kuning dan list coklat, lonceng gereja tampak berada pada sisi kanan jika dilihat dari depan ditambah sayap kanopi terbentang dari dua sisi mendambah anggunnya gereja mungil itu.

“Saya setuju, memang kita harus memiliki keterlibatan secara bersama-sama untuk membangun gereja ini. Kerja sama yang kompak membuat tampilan gereja stasi ini anggun,” tutur Uskup Agustinus (09/12).

Dia juga menambahkan untuk memupuk iman Katolik memang harus ditunjukkan pula dengan perbuatan nyata dari hasil keteguhan iman yang dilakukan oleh umat stasi.

Misalnya dengan bekerja dan gotong royong untuk membangun gereja. Hal itu justru gambaran cinta dan kesetiaan umat kepada Allah.

“Dulu kalau saya masih kecil, gereja selalu disebut dengan tempat untuk sembayang. Kalau dilihat dari makna bahasanya dapat berarti tempat manusia untuk menyembah “Yang” besar, agung dan mulia,” kata Uskup Agustinus dalam homilinya (09/12).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Jans Angkamor Bong

Tags

Rekomendasi

Terkini

X