Kondisi itu memaksa Gerardus untuk berhenti sekolah dan mulai mencari nafkah untuk ibu dan adik-adiknya.
Gerardus bekerja sebagai pelayan seorang tukang jahit dan dalam prosesnya, ia belajar seni menjahit.
Baca Juga: Injil Matius dan Warisan Santo Matius: Menyebarkan Kabar Baik kepada Bangsa Yahudi
Dengan pekerjaan ini, ia dapat memberikan penghidupan bagi keluarganya sambil mengasah keterampilannya.
Kemudian, Gerardus menjadi pelayan di istana Uskup Lacedonia.
Di sini, ia memiliki lebih banyak waktu untuk berdoa, yang memperdalam kehidupan rohaninya.
Suatu hari, ketika ia menimba air, kunci rumahnya jatuh ke dalam sumur dan ia dikepung oleh pelayan lain yang memarahinya.
Namun, Gerardus tidak panik; sebaliknya, ia lari ke kapela, mengambil patung Kanak-kanak Yesus, mengikatnya pada timba, dan kemudian menurunkannya ke dalam sumur.
Dengan cara yang ajaib, ketika ia mengangkat kembali timba, kunci itu melekat pada tangan Kanak-kanak Yesus.
Pengalaman ini menjadi tanda yang memperkuat imannya dan memantapkan tekadnya untuk mengabdikan hidupnya kepada Tuhan di biara.
Setelah Uskup Lacedonia meninggal, Santo Gerardus kembali ke kampung halamannya dan mendirikan usaha jahit untuk menghidupi keluarganya.
Bisnis ini berkembang dengan baik di Muro Lucano, dan Gerardus menggunakan pendapatannya untuk membantu ibu, adik-adik, kaum miskin, dan gereja.
Namun, cita-citanya untuk menjadi seorang biarawan tidak pernah reda.
Meskipun awalnya ditolak oleh pimpinan Tarekat Redemptoris karena masalah kesehatan, tekad tulus dan murni Santo Gerardus akhirnya membuahkan hasil, dan pada tahun 1749, ia diterima ke dalam tarekat tersebut di Deliceto.
Santo Alfonsus Liguori, pendiri tarekat Redemptoris, sangat terkesan oleh kesalehan dan ketekunan Gerardus dalam menjalankan tugas-tugasnya.