religi

Kapela Santo Fransiskus Asisi Koperapoka, Tempat Pembinaan Iman Umat Suku Kamoro Pemilik Hak Ulayat Mimika

Senin, 9 Oktober 2023 | 09:11 WIB
Kapela Santo Fransiskus Asisi tampak dari depan (Jeremias Rahadat - Umat )

"Sesudah itu tanah Kamoro gelap, tidak ada tanda-tanda bahwa sinar cahaya Tuhan Allah akan mengena tanah ini," kata Pastor Amandus.

Tahun 1917, atau 21 tahun setelah kedatangan pastor Le Coq, datanglah tenaga-tenaga baru membawa Injil di tanah Mimika, yaitu Mgr. Yohanes Aerts MSC, Pastor Kowatski dan dua guru dari Kei, Bapak Benediktus Renyaan dan Kristianus Rettob.

"Sejak itu, tanah Mimika bertemu lagi dengan gereja Katolik yaitu 96 tahun lalu. 96 tahun lalu, tanah ini sudah memeluk salib Kristus dan kondisi itu berlangsung sampai saat ini," kata Pastor Amandus.

Permandian pertama orang Kamoro terjadi di Kokonao 11 Agustus 1928. Setelah permandian pertama itu berlanjut dan terus berlanjut sampai hari ini, ribuan orang Kamoro mengenal Yesus lewat gereja Katolik.

Tahun 2004, wilayah Keuskupan Timika saat ini masih bagian dari pelayanan Keuskupan Jayapura, dimekarkan dan pastor Jhon Philip Saklil Pr, ditahbiskan menjadi uskup pertama Keuskupan Timika pada 18 April 2004 di Timika.

Selanjutnya pastor Amandus berpesan secara khusus bagi umat suku Kamoro, untuk jangan membalikan badan, tanah ini sudah disirami dengan air babtis, maka harus mempertahankan itu untuk kemuliaan nama Tuhan.

"Kapela yang diresmikan hari ini bertujuan untuk itu, bahwa bibit-bibit iman yang telah ditanam oleh Mgr. Yohanes Aerts dan para misionaris awal dan saat ini dilanjutkan oleh para imam yang mana dua orang imam diantaranya adalah orang asli suku Kamoro yaitu Pastor Yosep Ikikitaro, Pr sebagai buah sulung Keuskupan Timika, imam Diosesan yang pertama ditahbiskan oleh Mgr. John Philip Saklil, pada awal pembentukan Keuskupan Timika dan pastor Theo Tepa OFM," ujarnya.

"Kapela ini diresmikan agar kita membangun diri, membangun iman, suatu saat kita tampil di gereja Katedral dan kita boleh menepuk dada dan berkata kami ada, kami masih ada dan akan tetap ada kerena memang tanah ini milik kami. Pastor harapkan agar dari tempat ini akan lahir bibit-bibit panggilan untuk jadi penerus pembawa dan penyebar iman kristiani, pengikut Yesus kemanapun," ucapnya lagi.

Sesudah homili dilakukan pemberkatan gedung Kapela dan selanjutnya pelantikan badan pengurus Kapela. Usai pemberkatan dan peresmian, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama di halaman Kapela. Peresmian ini diikuti oleh ratusan umat suku Kamoro dan para tamu undangan dari pemerintah daerah dan forkopimda lainnya.

Halaman:

Tags

Terkini