Tema peziarahan pengharapan menjadi penting untuk mengingatkan umat bahwa perjalanan hidup rohani tidak selalu mulus, penuh dengan tantangan dan badai. "Namun, iman kita kepada Tuhan yang selalu menyertai umat-Nya adalah sumber kekuatan.
Dengan pengharapan dan kasih, kita akan mampu melewati segala tantangan yang ada," tambah Uskup Agustinus.
Dalam Ensiklik “Fratelli Tutti”, Paus Fransiskus juga mengajak umat manusia untuk mengutamakan kasih dan kepedulian terhadap sesama tanpa memandang perbedaan ras, agama, atau budaya. Solidaritas menjadi kata kunci dalam hidup bersama, terutama dalam menghadapi krisis yang semakin nyata, seperti kemiskinan dan kerusakan ekologis.
Perbuatan Kasih dan Aktivitas Prapaskah di Tahun Yubelium
Di sepanjang masa Prapaskah, umat Katolik di Keuskupan Agung Pontianak diharapkan untuk mengambil bagian dalam aksi puasa pembangunan, yang tidak hanya berupa pengumpulan dana, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang miskin, terpinggirkan, dan yang terdampak bencana alam.
Dalam surat gembalanya, Uskup Agustinus menekankan bahwa masa puasa dan perayaan Yubelium menjadi waktu untuk menguji dan memperbaharui diri, termasuk apakah hidup kita sudah sesuai dengan iman yang kita yakini dan amalkan.
Mgr. Agustinus Agus juga memberikan beberapa kegiatan yang dapat dilakukan selama tahun Yubelium untuk memperoleh indulgensi penuh, seperti:
- Peziarahan ke Pintu Suci (Porta Sancta) di gereja-gereja yang telah ditetapkan.
- Mengaku dosa dan menerima Komuni melalui sakramen tobat dan Misa Kudus.
- Berdoa untuk intensi Paus dan merenungkan Kitab Suci.
- Melakukan perbuatan kasih dan belas kasihan, seperti membantu mereka yang miskin dan menderita, mengunjungi orang sakit, serta mendoakan jiwa-jiwa yang telah meninggal.
- Mengikuti retret atau rekoleksi untuk pembaharuan iman dan lebih mendalami makna pertobatan.
Menerima Berkat Tuhan
Sebelum mengakhiri Misa, Uskup Agustinus mengajak seluruh umat untuk memasuki masa Prapaskah dan tahun Yubelium 2025 dengan penuh sukacita, semangat bertobat, serta pengharapan akan kasih dan belas kasihan Tuhan yang tanpa batas.
"Mari kita jalani masa puasa dan tahun Yubelium ini dengan penuh sukacita, agar hidup kita semakin dekat dengan Tuhan, berbagi kasih kepada sesama, serta menjaga dan melindungi bumi sebagai rumah kita bersama," tutup Uskup Agustinus sebagaimana yang ditulisnya dalam surat gembala APP 2025.
Umat yang hadir dalam Misa ini tidak hanya menerima abu di dahi mereka sebagai tanda pertobatan, tetapi juga dibekali dengan pesan penting untuk menjaga kedamaian bumi, berbagi kasih kepada sesama, dan menjadikan masa Prapaskah sebagai waktu untuk memperbaharui diri dalam iman, harapan, dan kasih.
Menutup perayaan misa Rabu Abu, sehubungan dengan kegiatan selama tahun Yubelium, Uskup Agustinus menyampaikan bahwa dari komisi liturgi Keuskupan Agung Pontianak akan memberikan tuntunan.
“Contoh: Gereja-gereja yang akan dikunjungi juga harus mempersiapkan diri Katedral ini misalnya, porta Santanya sudah bagus, tapi misalnya mengeluarkan brosur kecil tentang riwayat hidup Gereja Katedral ini, supaya pengunjung yang dari luar bisa tahu perjalanan gereja ini,” katanya.
Bapa Uskup juga menekankan mesti ada orang yang bisa menuntun dan memberi penjelasan kepada orang yang akan berkunjung ke gereja tersebut.
“Tetapi yang wajib adalah 7 Gereja untuk mendapat indulgensi penuh, bukan berarti dalam satu hari tetapi selama satu tahun. Dan ini segala kelompok dan komisi-komisi mengambil bagian,” kata Uskup Agustinus.