Perjalanannya, seperti yang dilakukan orang Majus, katanya, selalu dimulai “dari atas”, dipandu oleh panggilan Tuhan dan iluminasi firman Tuhan.
Panggilan untuk cinta dan kerendahan hati
Paus Fransiskus mengakhiri dengan seruan untuk keberanian, cinta, dan kerendahan hati dalam perjalanan iman dan pelayanan kita.
Baca Juga: Pertemuan Pribadi Pangalima Pajaji dalam Kunjungannya kepada Uskup Agustinus
Saat membagikan sebuah anekdot tentang seorang “imam yang bersemangat” ia mengakui bahwa tidak mudah untuk “menghidupkan kembali bara api di bawah abu Gereja.”
“Hari ini kami berusaha untuk mengobarkan semangat mereka yang telah lama kehilangan semangat tersebut. Enam puluh tahun setelah Konsili, kita masih memperdebatkan pembagian antara 'progresif' dan 'konservatif', sedangkan perbedaan sebenarnya adalah antara sepasang kekasih dan mereka yang telah kehilangan gairah awal tersebut. Itulah perbedaannya. “Hanya mereka yang cinta jalan ke depan,” katanya.
“Hanya mereka yang mencintai yang maju.”
“Terima kasih,” kata Paus Fransiskus, “terutama untuk semua pekerjaan yang Anda lakukan dalam keheningan. Mendengarkan, membedakan, melakukan perjalanan.” Dan dia memohon kepada Tuhan agar memberikan rahmat untuk bersukacita dalam pelayanan yang rendah hati dan murah hati: “Tolong, semoga kami tidak pernah kehilangan selera humor kami!” ***
Artikel Terkait
Paus Fransiskus Angkat Fransiskus Nipa Sebagai Uskup Agung Koajutor Makassar, Begini Kiprahnya
Paus Fransiskus Rilis Buku Baru 'Natal di Gua'
Paus Fransiskus Sampaikan Pesan Perdamaian di Tengah Konflik Israel-Hamas
Paus Fransiskus Sambut Hangat 60 Tahun Diplomasi Vatikan-Korea Selatan: Harapan untuk Perdamaian dan Kesaksian Pemuda
Duta Besar Indonesia Serahkan Surat Kepercayaan kepada Paus Fransiskus di Vatikan
Salib dari Vatikan Diberkati Paus untuk Gereja Paroki Santo Lukas di Apau Kayan, Malinau, Kalimantan Utara