“Iya, bu. Ngomong-omong, saya sampai sekarang tidak tahu suaminya dikubur dimana” kata ibu yang lain. Tentu tak perlu sambung menyambung yang dibicarakan.
“Oh, punya suami ya?. Aku sangka perawan ‘thing-thing’” sahut ibu sebelah sana.
“Tidak! Bapakku kawan suaminya, sama-sama tentara aktif dari Diponegoro. Ia mati tertembak tentara Gurkha. Jasadnya mereka buang ke tengah laut” Sambung seorang ibu lain yang duduk di pojok.
“Kasihan, ya?” Timpal ibu lain.
“Kita banyak berhutang budi, lho” Sambung ibu lain.
“Saya ingat, kami berlima, ke luar dari kelas mecegat dia untuk membeli jajan. Tetapi, keburu ketahuan Bu Guru Atik, kami berhamburan lari semua sambil menggenggam jajanan yang sedianya akan dibeli”
“Pasti hari-hari berikutnya, kalian tidak jajan, kan?” sambung seseorang dari belakang.
“Betul. Seminggu kami tidak jajan. Tetapi, tetelah jajan lagi Mbahno tidak mengusiknya. Kami tetap dilayani seperti tidak ada apa-apa” Sambungya/
“Itulah Mbahno. Kita sungguh berhutang budi. Semoga amalnya diterima” kata ibu lain.
“Amin!. Kehidupan Mbahno seperti dulu hingga sekarang tidak berubah, ya. Seminggu yang lalu, anak saya dipanggil, diberi apa? Tahu?!” Tanya ibu muda yang dari tadi diam saja.
“Telur rebus!!. Kata Mbahno, dari kenduri pak Dar. Paginya ia rebus lagi dan dikasihkan kepada anak saya. Kebetulan saat ia sedang rewel. Giginya akan tumbuh”. Lanjutnya.
Hingga, jenasah diberangkatkan ke makam, para pelayat tak berhenti membicarakan kebaikan Mbah Tarno. Mereka mengular sepanjang jalan dari rumah duka hingga liang lahat.
Menjelang senja, dari lereng bukit di dekat sumber air belakang rumah pikiranku berkilas balik. Kebaikan itu ternyata tidak perlu diukur oleh perbuatan-perbuatan besar yang spektakuler.
Kehidupan Mbah Tarno mengajarkan, bahwa konsistensi dan komitmen dari perbuatan baik yang sederhana yang dilakukan dengan tulus hati dari hari ke hari membuatnya dilimpahi kebaikan.
Aurora di ufuk barat mulai memerah tua. Sebentar lagi layar hitam akan menutup langit..