pontianak-insights

Jika Alam Tidak Lagi Bersahabat, Refleksi Ekologis dan Spiritual di Tengah Luka Ciptaan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:07 WIB
Kolase foto Br Stephanus Paiman OFM Cap (kiri) dan kondisi Kota Pontianak saat malam hari yang diselimuti asap pekat. (Dok. Pontianak Globe)

Bagi manusia, hutan sering kali hanya dipandang sebagai kumpulan pepohonan. Namun bagi makhluk hidup lain, hutan adalah rumah, sumber makanan, tempat berkembang biak, serta ruang untuk mempertahankan kehidupan.

Baca Juga: Tari Kontemporer Jadi Ruang Eksplorasi Talenta Seni Kalbar

Karena itu, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang terbakar sebenarnya adalah sebuah rumah kehidupan. Dan rumah tersebut bukan hanya diperuntukkan bagi manusia.

Saat Alam Memberikan Peringatan

Selama berabad-abad, manusia sering menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu.

Alam dipandang terutama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Kita mengambil kayu dari hutan, memanfaatkan tanah, menggali hasil bumi, membuka kawasan baru, mengubah aliran sungai, serta mengubah wajah bentang alam.

Namun, manusia sering lupa mengajukan pertanyaan mendasar: apakah bumi masih mampu menerima semua tekanan yang diberikan kepadanya?

Alam memiliki kemampuan untuk menopang kehidupan, tetapi kemampuan itu bukan tanpa batas.

Ketika batas tersebut terus dilewati, bumi akan memberikan respons melalui berbagai perubahan yang berdampak langsung kepada kehidupan manusia.

Banjir, longsor, kekeringan, peningkatan suhu ekstrem, kebakaran hutan, berkurangnya sumber air, hilangnya keanekaragaman hayati, serta perubahan keseimbangan ekosistem bukanlah peristiwa yang selalu berdiri sendiri.

Banyak di antaranya berkaitan erat dengan cara manusia mengelola dan memperlakukan bumi.

Karena itu, mungkin sudah waktunya manusia berhenti hanya bertanya, “Mengapa alam melakukan hal ini kepada kita?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa yang telah kita lakukan terhadap alam sehingga kondisi ini terjadi?”

Pertanyaan tersebut memang lebih menyakitkan, tetapi juga menunjukkan keberanian untuk melihat kenyataan secara jujur.

Halaman:

Tags

Terkini

Mencabut Perda Karhutla: Sesat Data dan Cacat Hukum

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:07 WIB