OPINI: Br Stephanus Paiman OFM Cap
PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Tema tulisan ini adalah, "Jika Alam Tidak Lagi Bersahabat: Refleksi Ekologis dan Spiritual di Tengah Luka Ciptaan. Sebuah Renungan Ekologis dan Iman di Tengah Kerusakan Rumah Bersama."
Bagaimana bila suatu saat alam tidak lagi memberikan keramahan kepada manusia?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan besar tentang masa depan kehidupan di bumi.
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini, pertanyaan itu bukan lagi sekadar dugaan atau bayangan tentang sesuatu yang mungkin terjadi.
Ia telah menjadi sebuah tanda peringatan.
Manusia kini menyaksikan berbagai luka yang dialami bumi: hutan yang terbakar, udara yang semakin tercemar, sungai yang kehilangan kebersihan alaminya, tanah yang mengalami kerusakan, hingga munculnya berbagai bencana ekologis di berbagai wilayah.
Di Indonesia, termasuk kawasan Kalimantan, kebakaran hutan dan lahan menjadi gambaran nyata bahwa ketika manusia memperlakukan alam secara tidak bijaksana, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia.
Baca Juga: AMAN Kalbar Minta Penanganan Karhutla Tetap Hormati Hak Masyarakat Adat
Kerusakan alam juga membawa penderitaan bagi seluruh makhluk hidup yang bergantung kepadanya.
Ada burung yang kehilangan tempat bersarang. Ada orangutan yang harus kehilangan kawasan hutan sebagai habitatnya.
Ada pula berbagai jenis serangga, reptil, mamalia, tumbuhan, dan organisme lainnya yang kehilangan ruang kehidupan mereka.
Sebagian makhluk hidup mungkin berusaha mencari tempat baru.
Sebagian mengalami luka. Sebagian lainnya tidak mampu bertahan dan akhirnya mati tanpa sempat memperoleh pertolongan.