“Saya melihat ini sebagai kesempatan yang sangat berharga. Kita tidak hanya mendengar teori-teori filsafat, tetapi juga argumentasi dari dua pemikir yang telah lama bergelut dengan persoalan pendidikan, manusia, dan masyarakat,” katanya.
Diskusi akan semakin kaya karena melibatkan para panelis dari latar belakang keilmuan yang berbeda, yakni Dr. Monika Widyastuti Surtikanti, M.Pd., Stanislaus, SE., M.Pd., dan Bd. Agnes Dwiana Widi Astuti, S.Si.T., M.Kes. Mereka akan memberikan tanggapan kritis terhadap gagasan yang disampaikan para narasumber.
Bagi Trio, penyelenggaraan Workshop Humaniora ini menunjukkan sikap intelektual yang ingin ditegaskan oleh Unika Santo Agustinus Hippo.
Di tengah kecenderungan perguruan tinggi mengejar indikator-indikator ekonomi dan kebutuhan pasar, kampus tetap perlu menjaga fungsi dasarnya sebagai ruang refleksi dan pembentukan karakter manusia.
“San Agustin ingin menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh kehilangan dimensi reflektif, etis, dan humanistisnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang penting, tetapi semuanya harus tetap diarahkan pada pengembangan manusia yang utuh,” tegasnya.
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, filsafat dinilai tetap relevan sebagai fondasi untuk membangun nalar kritis, kebijaksanaan moral, dan tanggung jawab intelektual dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Trio melihat bahwa Unika San Agustin sudah dapat menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan filsafat dengan berbagai disiplin ilmu sekaligus membuka refleksi baru mengenai masa depan pendidikan tinggi Indonesia. (*)