pontianak-insights

Pegiat Media Gereja Belajar 'Wajah dan Suara' Lokal dari Tiga Etnis Kalimantan Barat

Sabtu, 30 Mei 2026 | 07:46 WIB
Kemasan camilan lokal di Kampung Wisata Caping di Pontianak tanpa bahan plastik sebagai bentuk memelihara bumi. (Komsos KAP)

PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Ratusan peserta Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII diajak menyelami keberagaman budaya Kalimantan Barat melalui kunjungan ke komunitas Dayak, Melayu, dan Hakka di Kota Pontianak, Jumat, 29 Mei 2026.

Kegiatan yang diikuti delegasi Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari 18 keuskupan di Indonesia tersebut menjadi bagian dari rangkaian PKSN XIII yang berlangsung di Keuskupan Agung Pontianak.

Baca Juga: Terjebak Paylater dan Pinjol demi Validasi Sosial? Ini Trik Lepas dari Lingkaran Setan Utang Digital

Para peserta mengunjungi Rumah Betang sebagai representasi budaya Dayak, Kampung Caping dan Rumah Melayu sebagai representasi budaya Melayu, serta Rumah Hakka yang mewakili komunitas Tionghoa Kalimantan Barat.

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri, mengatakan kunjungan tersebut dirancang agar para pegiat media Gereja dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat lokal yang menjadi bagian penting dari wajah Gereja Indonesia.

“Melalui kunjungan ini, kami berharap para pegiat Komsos dari berbagai keuskupan dapat melihat dan merasakan langsung esensi wajah dan suara lokal melalui pendekatan budaya yang hidup di tengah masyarakat,” ujar Paulus.

Baca Juga: Terjebak Paylater dan Pinjol demi Validasi Sosial? Ini Trik Lepas dari Lingkaran Setan Utang Digital

Menurut dia, komunikasi sosial Gereja tidak hanya berbicara tentang teknologi dan media digital, tetapi juga kemampuan mendengarkan, memahami, dan menghadirkan kisah-kisah yang hidup di tengah masyarakat.

Selama kunjungan, peserta disambut dengan berbagai ekspresi budaya lokal, mulai dari tarian tradisional, ritual adat, kuliner khas, hingga dialog bersama tokoh masyarakat dan pengelola rumah budaya.

Baca Juga: Bedah Bisnis: Mengapa Kafe Estetik Banyak yang Tumbang dalam Waktu Kurang dari 1 Tahun?

Di Rumah Hakka Kalimantan Barat, peserta diperkenalkan pada sejarah komunitas Hakka dan nilai persatuan yang menjadi identitas mereka.

Sementara di Rumah Betang, peserta belajar mengenai filosofi kehidupan komunal masyarakat Dayak yang menekankan kebersamaan dan harmoni.

Rombongan juga mengunjungi Kampung Caping dan Rumah Melayu untuk mengenal berbagai tradisi yang masih dipelihara masyarakat setempat, termasuk praktik-praktik budaya yang mengajarkan musyawarah, gotong royong, dan penghormatan kepada sesama.

Baca Juga: Kenali FOMO Saham & Crypto: Mengapa Ikut-ikutan Tren Influencer Bisa Bikin Portofoliomu Boncos

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Malang, RD Stephanus Jemmy Fantaw, menilai pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk memahami kekayaan budaya Indonesia yang terus hidup di tengah masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini