Sejumlah peserta konferensi disebut mulai curiga karena materi presentasi dinilai janggal dan poster penelitian yang di-submit hanya dicetak menggunakan kertas HVS ukuran A4.
Dalam klarifikasinya, Rifaldy mengakui konferensi ISPPD di Denmark hanya dihadiri oleh Prihantini. Ia juga mengakui telah mencatut nama sejumlah universitas tanpa izin dan menegaskan tidak ada keterkaitan langsung institusi tersebut dengan partisipasinya dalam konferensi.
Kasus ini masih menjadi perbincangan panas di media sosial karena dinilai dapat mencoreng reputasi Indonesia dalam dunia penelitian dan forum ilmiah internasional.***