Lalu aku mendengar suaramu.
Bukan dari luar.
Dari dalam cawan itu.
“Aku tidak pernah pergi.”
Suaramu lembut, tetapi menggetarkan sesuatu yang telah lama mati dalam diriku.
Tanganku gemetar. Aku menurunkan cawan itu perlahan.
“Kalau kau tidak pergi,” kataku, “mengapa aku menemukanmu dalam ketiadaan?”
Tonggeret itu bergetar lagi. Sayapnya seperti tanda yang tak selesai ditafsirkan.
“Aku hanya tersembunyi,” katamu. “Seperti benih di dalam tanah. Seperti terang yang menunggu saatnya memecah gelap.”
Aku menutup mata.
Dan di dalam gelap itu, aku melihat kita: duduk berdua di beranda yang sama, berbagi cawan yang sama, tanpa tahu bahwa suatu hari kita akan saling kehilangan, lalu saling mencari dalam bentuk yang tak lagi kita kenali.
Waktu, ternyata, bukan sekadar berjalan.
Ia menguburkan.
Ia juga membangkitkan.
Ketika aku membuka mata, tonggeret itu sudah tidak ada.
Cawan arakku kosong.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Udara terasa lebih ringan, seolah-olah batu besar yang tak terlihat telah digulingkan dari pintu hatiku. Dan di dalam ruang yang dulu gelap itu, kini ada gema—kecil, rapuh, tetapi hidup.