PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Antrean panjang di sejumlah SPBU di Pontianak belakangan ini tak lagi sekadar persoalan bahan bakar. Fenomena ini menjadi cermin bagaimana informasi dikelola oleh negara dan bagaimana masyarakat harus menanggung dampak dari komunikasi yang tidak utuh.
Dalam beberapa hari terakhir, situasi serupa terus terjadi. Warga rela mengantre berjam-jam, bahkan di bawah hujan, demi mendapatkan BBM. Antrean kendaraan mengular hingga ke badan jalan, memicu kemacetan sekaligus keresahan.
Kondisi ini bukan semata karena distribusi yang terhenti, melainkan dipicu oleh gelombang panic buying yang menyebar dengan cepat.
Baca Juga: Pemulihan Cepat di Aceh Tamiang, Prabowo Klaim Hampir Tuntas
Kepanikan itu bermula dari pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menyebut stok BBM nasional berada di kisaran 20 hari.
"Masih cukup (untuk) 20 hari. Kalau sampai dengan sekarang belum terganggu," ucapnya.
Pernyataan tersebut kemudian menyebar luas tanpa penjelasan konteks yang memadai, sehingga ditangkap publik sebagai sinyal bahwa stok BBM akan segera habis.
Padahal, pernyataan itu berkaitan dengan situasi global, khususnya meningkatnya tensi di Timur Tengah, termasuk isu penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
Kekhawatiran makin meningkat ketika muncul laporan kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, termasuk milik PT Pertamina International Shipping.
Bahkan, Jenderal Sardar Jabbari dari Iran sempat menyatakan bahwa negaranya tidak akan membiarkan minyak keluar dari wilayah tersebut. Namun, pernyataan berbeda disampaikan oleh Mohammad Boroujerdi yang menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup.
“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz, harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah, kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz," ujarnya.
Di tengah tarik-menarik informasi global, masyarakat bereaksi lebih cepat dibanding klarifikasi. Ketakutan pun menjadi respons spontan.
Seorang warga Pontianak, Vivi, mengaku ikut antre karena khawatir tidak kebagian BBM.
"Saya dengar dari orang-orang juga kalau BBM mau langka, jadi takut tidak kebagian. Pokoknya kalau bensin motor sudah hampir habis, jadi tetap harus antre panjang lagi," keluhnya.
Belakangan, Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan lanjutan. Ia menegaskan bahwa angka 20 hari bukan berarti stok akan habis, melainkan menggambarkan sistem distribusi yang terus diisi ulang.