Kondisi tersebut, lanjut Aisyah, menunjukkan bahwa bahkan kawasan hutan yang masih lebat tidak sepenuhnya mampu menahan dampak cuaca ekstrem.
Aisyah juga mengaitkan bencana di Cisarua dengan dampak perubahan iklim. Menurutnya, pemanasan global menyebabkan suhu udara meningkat sehingga mampu menampung lebih banyak uap air.
“Udara yang lebih panas mampu menampung lebih banyak uap air,” jelasnya.
“Saat hujan turun, air yang dilepaskan menjadi lebih deras dan berlangsung lebih lama,” sambungnya.
Kondisi tersebut membuat hujan berintensitas tinggi semakin sering terjadi dan meningkatkan risiko longsor serta banjir bandang.
“Bencana di Cisarua, hal yang kami alami ini adalah perubahan iklim,” tegas Aisyah.
Baca Juga: Aceh Tamiang Diselimuti Debu, Dampak Lumpur Banjir Kian Mengkhawatirkan
Dalam pernyataan yang sama, ia kembali menekankan bahwa petani bukan penyebab utama longsor, melainkan korban dari kondisi struktural dan krisis iklim.
“Petani tidak memiliki banyak pilihan. Untuk hidup sejahtera, idealnya seorang petani membutuhkan sekitar dua hektar lahan,” tuturnya.
Namun, realitas di Desa Pasirlangu, Cisarua, menunjukkan bahwa rata-rata kepemilikan lahan hanya sekitar 0,3 hektar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk.
“Banyak petani tidak memiliki lahan sama sekali,” ungkap Aisyah.
Ia menambahkan, meskipun alih fungsi lahan bukan faktor utama, kejadian longsor tetap berpotensi berulang akibat minimnya daya resap air di kawasan tersebut.***