PONTIANAKGLOBE.COM, ACEH TAMIANG -- Dua bulan setelah banjir bandang dan tanah longsor menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025, persoalan krusial masih membayangi kehidupan warga, yakni sulitnya akses air bersih.
Hingga kini, sejumlah wilayah di Aceh Tamiang masih bergantung pada bantuan dan upaya mandiri untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Kondisi tersebut memaksa warga berjalan jauh demi mendapatkan air bersih untuk minum, mandi, hingga mencuci.
Baca Juga: Banjir Susulan Berjam-jam Terjang Penakir, Warga Baru Mengungsi Saat Siang
Situasi ini dialami warga Dusun Sidodadi, Kampung Payanas, Aceh Tamiang. Sebelum bencana terjadi, mereka mengandalkan pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Namun, banjir bandang membuat seluruh jaringan dan peralatan penyaluran air rusak dan hilang terbawa arus.
“Setelah banjir, akses PDAM terputus, dari pipa-pipanya hilang kemudian hanyut, mesin-mesinnya pun hanyut mungkin,” ucap relawan kepada salah satu warga, dikutip dari unggahan video di akun Instagram @faza.fauzan_ pada Selasa, 27 Januari 2026.
“Sampai sekarang, dua bulan ini mereka harus melangsir air,” imbuhnya.
Warga setempat mengaku harus menempuh jarak lebih dari satu kilometer setiap hari untuk mengambil air. Aktivitas tersebut dilakukan secara rutin sejak pagi hingga sore demi mencukupi kebutuhan keluarga.
“Langsir air jaraknya 1 Km lebih dan setiap hari pagi-sore,” ucap warga tersebut.
“Mau nyuci harus langsir, mau mandi langsir, semua langsir,” sambungnya.
Kondisi krisis air bersih ini bukan hanya terjadi di kawasan pedalaman. Sebelumnya, sejumlah warga di wilayah Kota Aceh Tamiang juga mengeluhkan minimnya pasokan air minum. Mereka menyebut bantuan air bersih yang sempat rutin diterima pascabanjir kini mulai berkurang.
Baca Juga: Lubang Raksasa di Aceh Tengah Makin Melebar, Jalan Penghubung Putus
Berdasarkan catatan Kementerian Pekerjaan Umum, dampak bencana terhadap infrastruktur air bersih di Provinsi Aceh tergolong luas. Sebanyak 52 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dilaporkan mengalami kerusakan di 11 kabupaten dan kota.
Total kapasitas air yang terganggu mencapai 2.151 liter per detik, sehingga berpotensi menghambat pasokan air bersih bagi ribuan warga. Hingga saat ini, proses pemulihan masih dilakukan secara bertahap oleh pemerintah bersama berbagai pihak.
Selain upaya dari pemerintah, sejumlah relawan dan organisasi kemanusiaan turut berinisiatif membangun sumur bor di beberapa titik untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar akan air bersih.***
Artikel Terkait
Fahri Ibrochim: Di Aceh Tamiang, Solidaritas Mengalahkan Derita
Aksi Spontan Brimob Aceh Tamiang Usai Bersihkan Sekolah Terdampak Banjir, Musik Jadi Pelepas Lelah
King Abdi Ungkap Kondisi Aceh Tamiang: Belum Baik-baik Saja
Sebulan Pascabanjir, Desa di Aceh Tamiang Masih Tertimbun Kayu
Kesaksian Bocah Aceh Tamiang, Air Banjir Naik Hingga Seatap Rumah
Usai Banjir Bandang, Aceh Tamiang Kini Diselimuti Debu