Pegiat Lingkungan Ungkap Fakta Longsor Cisarua: Petani Bukan Penyebab, Krisis Iklim Jadi Pemicu

photo author
Judirho Aho, Pontianak Globe
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:19 WIB
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Dok. Instagram.com/@aisyahbertani)
Menyoroti penuturan pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua yang wilayahnya terdampak bencana longsor. (Dok. Instagram.com/@aisyahbertani)

PONTIANAKGLOBE.COM, CISARUA -- Perbincangan mengenai penyebab bencana longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang terjadi pada 24 Januari 2026, masih ramai dibahas warganet di media sosial.

Di tengah perdebatan tersebut, pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua, Siti Aisyah Novitri, menyampaikan pandangannya mengenai bencana yang melanda kampung halamannya.

“Kampung halamanku dilanda longsor dan banjir bandang,” tulis Aisyah melalui akun Instagram pribadinya @aisyahbertani, Sabtu (31/2/2026).

Baca Juga: Sirine Banjir Bunyi, Warga Bekasi Malah Kumpul di Jembatan

Dalam unggahannya, Aisyah menyoroti kecenderungan publik yang langsung menunjuk alih fungsi lahan sebagai penyebab utama longsor. Namun, ia menilai kesimpulan tersebut terlalu menyederhanakan persoalan dan kerap menjadikan petani sebagai pihak yang disalahkan.

“Jangan salahkan petani, longsor Cisarua bukan semata soal alih fungsi lahan. Ini tentang climate justice,” tegasnya.

Menurut Aisyah, petani justru sering dijadikan kambing hitam atas bencana yang terjadi, padahal mereka juga merupakan kelompok yang paling terdampak.

“Petani justru dijadikan kambing hitam. Mereka dituduh sebagai penyebab bencana karena alih fungsi lahan,” lanjutnya.

Di sisi lain, Aisyah mengungkapkan bahwa warga setempat masih berjuang menghadapi dampak bencana, termasuk mencari korban yang hingga kini belum ditemukan.

“Sementara kami masih berusaha bertahan, mencari, dan berduka atas kehilangan saudara-saudara kami,” ungkapnya.

Aisyah kemudian memaparkan analisisnya terkait penyebab longsor di Cisarua. Ia menyebut alih fungsi lahan memang berkontribusi, namun bukan faktor utama pemicu bencana.

“Titik awal longsor berasal dari puncak Gunung Burangrang yang masih rimbun, pemicunya hujan berintensitas tinggi,” jelasnya.

Menurutnya, longsoran di kawasan puncak tersebut menutup jalur aliran air dan membentuk bendungan alami. Ketika bendungan itu jebol, air bercampur lumpur dan sedimen meluncur deras akibat kemiringan lereng yang mencapai 20 hingga 25 persen.

“Air bercampur sedimen lalu jebol, diperparah oleh kemiringan lereng 20–25 persen,” kata Aisyah.

“Aliran air lumpur, batu, dan pasir meluncur deras dan menghantam rumah-rumah warga,” tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Judirho Aho

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Budaya Tumbuh dari Keberanian

Rabu, 3 Juni 2026 | 15:42 WIB
X