pontianak-insights

Lapangan Bola Disulap Jadi Koperasi Merah Putih, Picu Amarah Warga Pati

Selasa, 6 Januari 2026 | 19:24 WIB
Menyoroti beredarnya video warga di Kabupaten Pati yang diduga kecewa ke oknum pejabat yang hendak bangun Koperasi Merah Putih tanpa izin. (Dok. Instagram.com/@undercover.id)

PONTIANAKGLOBE.COM, PATI -- Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan luapan kekecewaan warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terhadap rencana pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih di area lapangan desa.

Video tersebut diunggah akun Instagram @undercover.id pada Selasa (6/1/2026), dengan narasi bahwa warga geram karena lapangan sepak bola yang selama ini menjadi ruang olahraga dan aktivitas pemuda akan dialihfungsikan menjadi bangunan koperasi.

“Warga Pati geram, lapangan bola yang menjadi sarana olahraga pemuda desa, mau dijadikan koperasi desa,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Baca Juga: Penangkapan Presiden Venezuela Nicholas Maduro dan Bayang-Bayang Intervensi Amerika

Dalam rekaman video, tampak seorang pria menjadi sasaran protes warga di Desa Tambaharjo, Pati. Perdebatan sengit terjadi saat warga mempertanyakan dasar dan kewenangan pembangunan gedung di atas fasilitas umum.

“Anda bicara kapasitasnya sebagai apa?” tanya salah seorang warga.

Pria tersebut menjelaskan bahwa dirinya merupakan utusan dari pemerintah daerah yang ditugaskan untuk menjalankan pembangunan.

“Saya hanya menjalankan perintah, sudah diteken kontraknya,” ujarnya.

Pernyataan itu justru memicu reaksi keras dari warga lainnya yang menegaskan bahwa lokasi tersebut merupakan fasilitas publik.

“Ini fasilitas umum pak, tidak bisa pak,” sahut warga.

Sejumlah warga juga menyampaikan bahwa rencana pembangunan tersebut sebelumnya tidak pernah disosialisasikan kepada masyarakat.

Baca Juga: Nadiem Dikepung Dakwaan, Ojol Nyatakan Solidaritas Turun ke Jalan

Mereka menilai seharusnya ada musyawarah terlebih dahulu sebelum memutuskan alih fungsi lapangan desa.

“RT tidak bilang ke kami sebagai warga, seharusnya musyawarah terlebih dahulu,” ujar seorang warga.

Penolakan semakin menguat karena lapangan tersebut merupakan satu-satunya ruang olahraga dan kegiatan sosial pemuda desa. Warga menilai kebijakan itu tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.

Halaman:

Tags

Terkini