PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Di banyak tempat, hukum masih terasa sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan bagi masyarakat kecil.
Bagi mereka yang tak memiliki biaya, pengetahuan, maupun keberanian, keadilan kerap berhenti sebatas harapan.
Baca Juga: Pemkab Kayong Utara Perkuat Sinergi TNI–Polri Amankan Perayaan Natal 2025
Realitas inilah yang selama bertahun-tahun mengusik batin, seorang pendeta yang tak hanya melayani dari balik mimbar, tetapi juga memilih turun langsung ke medan perjuangan sosial.
Dalam perjalanan pelayanan rohaninya, Pdt. Denny Nafi kerap berjumpa dengan jemaat dan masyarakat yang terjerat persoalan hukum—dari sengketa tanah, konflik ketenagakerjaan, hingga kriminalisasi terhadap warga kecil.
Banyak di antara mereka pasrah, bukan karena bersalah, melainkan karena tidak tahu harus ke mana mencari keadilan.
Baca Juga: Pratikno Menegaskan Perintah Prabowo: Seluruh Jajaran Pemerintah Tak Boleh Berhenti Bekerja
“Di titik itu saya sadar, khotbah tentang kasih dan keadilan tidak boleh berhenti pada kata-kata,” ungkapnya suatu ketika. Baginya, iman harus hadir secara nyata, terutama bagi mereka yang paling rentan.
Panggilan Iman yang Menjadi Keputusan Besar
Kesadaran tersebut mendorong Pdt. Denny Nafi mengambil langkah yang tidak biasa.
Ia memilih keluar dari zona nyaman sebagai pendeta dan menempuh pendidikan hukum di Universitas Panca Bakti (UPB) Pontianak.
Keputusan ini bukan tanpa risiko—usia, waktu, dan tanggung jawab pelayanan menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Pratikno Menegaskan Perintah Prabowo: Seluruh Jajaran Pemerintah Tak Boleh Berhenti Bekerja
Namun baginya, memahami hukum adalah cara baru untuk melayani.
Ia ingin memastikan bahwa masyarakat kecil tidak lagi sendirian menghadapi sistem hukum yang rumit dan sering kali timpang.