Hal ini sejalan dengan penjelasan akademisi Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, yang menyebut adanya perbedaan mendasar antara studi Jepang dan China.
“Mereka (China) mengambil studi kelayakan Jepang, dipelajari lalu membikin proposal studi kelayakan terhadap studi kelayakan,” ujar Sulfikar dalam podcast Forum Keadilan TV.
Ia menambahkan bahwa Jepang melakukan survei lapangan secara menyeluruh selama empat tahun, sementara studi versi China tidak berbasis observasi langsung, sehingga dinilai tidak empirik.
Sulfikar menyebut pendekatan tersebut turut memicu pembengkakan anggaran atau cost overrun pada proyek Whoosh.***