PONTIANAKGLOBE.COM, PONTIANAK -- Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I Provinsi Kalimantan Barat resmi dibuka oleh Gubernur Kalbar, Ria Norsan, di Pontianak, Jumat sore (7/11).
Perhelatan besar umat Katolik Kalbar ini mengusung tema “Cor Unum et Anima Una ad Aedificandum Ecclesiam et Patriam” atau “Satu Hati Satu Jiwa Membangun Gereja dan Bangsa.”
Baca Juga: Ledakan di SMAN 72 Jakarta: Benarkah Akibat Perundungan yang Tak Tertangani?
Acara pembukaan dihadiri berbagai pejabat, termasuk Ketua DPRD Kalbar, unsur Forkopimda, Rektor Universitas Tanjungpura, para bupati/wakil bupati, serta tamu undangan lainnya.
Sekretariat panitia mencatat 577 peserta dan pendamping dari 13 kabupaten/kota turut hadir, kecuali Kabupaten Kayong Utara yang belum memiliki kepengurusan LP3KD.
Ketua Panitia Yohanes Budiman melaporkan, biaya lomba dan akomodasi untuk 35 orang per kabupaten/kota ditanggung LP3KD Kalbar melalui dana hibah Pemprov Kalbar tahun 2025.
Selebihnya menjadi tanggung jawab masing-masing LP3KD kabupaten/kota.
“LP3KD Kalbar hanya menanggung hingga 35 peserta. Bila ada tambahan, biayanya ditanggung mandiri,” jelas Budiman.
Baca Juga: Bupati Ponorogo Dicokok KPK, Diduga Terlibat Jual-Beli Jabatan
Ia menambahkan, para juri yang bertugas merupakan profesional berpengalaman di tingkat nasional, terdiri dari pastor, suster, dan umat awam yang ahli di bidangnya.
Pada hari pertama, tiga cabang lomba digelar, yakni Mazmur (kategori Anak, Remaja, OMK, Dewasa), Bertutur Kitab Suci, dan Cerdas Cermat Rohani SMP/SMA. Sementara dua cabang lainnya akan dilaksanakan pada Sabtu (8/11).
Budiman juga menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Kalbar serta seluruh pihak yang mendukung kegiatan ini.
“Terima kasih kepada semua panitia, peserta, dan pejabat yang turut menyukseskan Pesparani pertama di Kalbar ini,” ujarnya.
Ketua LP3KD Kalbar, Junaidi, menyebut kehadiran para pejabat daerah menunjukkan komitmen besar terhadap pengembangan umat Katolik di Kalbar, serta upaya memperkokoh iman dan persaudaraan.
Ia menegaskan pentingnya pelestarian musik dan nyanyian liturgi yang selaras dengan budaya lokal sebagai ekspresi iman umat.