Jeruk di Kalbar pernah hampir hilang karena CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration: sebuah penyakit serius pada tanaman jeruk yang disebabkan oleh bakteri), tetapi bangkit lagi karena petani belajar ulang cara menanam yang benar.
Sawit menjanjikan uang cepat, tetapi sekarang kita tahu, yang kaya bukan siapa yang punya lahan, tetapi siapa yang punya manajemen terkait sawit tersebut.
Ekonomi itu juga sama seperti kebun anggur, tunduk pada prinsip yang sama - hanya yang dirawat, yang tumbuh.
Jika generasi muda Kalbar memilih memegang ponsel tetapi tidak pernah memegang alat kerja, kita sedang menciptakan generasi yang paham dunia, tetapi tidak paham tanahnya sendiri.
Oleh karena itu, tanah tidak memberi panen kepada yang hanya menatap layar.
Dalam buku Ha-Joon Chang (2022), Edible Economics, ia menegaskan bahwa ekonomi bukan teori angka, tapi soal makanan yang betul-betul bisa dimakan. Artinya, ekonomi itu konkret, tidak bisa dimajukan hanya dengan wacana, apalagi dengan mimpi.
Hidup bukan tebakan, ekonomi bukan sulap, panen bukan giveaway.
Ini adalah soal tentang ‘bagaimana’
Ketiga anak petani itu akhirnya berhasil, bukan karena tanah mereka berubah, tapi karena cara mereka memperlakukan tanah berubah. Itulah inti manajemen artinya tidak menunggu nasib, tapi mengatur kemungkinan.
Dalam pengelolaan kebun di Kalimantan Barat, misalnya petani lada yang berhasil bukan yang mengandalkan “semoga harga naik”, tetapi yang mencatat cuaca, memilih bibit, mengatur jarak tanam, menghitung cost dan waktu, serta membangun relasi pasar.
Manajemen bukan teori yang rumit, tetapi manajemen ber-inti, kemampuan mengubah kerja keras menjadi hasil yang terukur.
Dalam literatur dagang terbaru, Michael Bungay Stanier (2023), How to Work on Hard Things memberi rumusan sederhana tentang “Kerja keras yang tidak dipandu sistem hanya menghasilkan kelelahan. Kerja keras yang dipandu fokus menghasilkan perubahan.”
Dengan kata lain, cangkul itu penting, tapi peta juga penting. Oleh karenanya tenaga itu perlu, namun arah yang sudah dirumuskan akan menentukan hasil.
Kita Mau Jadi Anak yang Mana?
Kisah petani dan tiga anaknya selalu berakhir sama, mereka belajar setelah terlambat. Pertanyaannya hari ini adalah—apakah kita mau menunggu setua mereka untuk percaya bahwa kerja keras bukan musuh, tetapi modal?