pontianak-insights

Ekonomi itu Bukan Tebak-Tebakan

Rabu, 5 November 2025 | 10:00 WIB
Perjalanan Penulis ke Batu Ampar, Bengkayang-Entikong bersama Uskup Emeritus Mgr Agustinus Agus, Keuskupan Agung Pontianak. (Samuel)

Sarat dengan pelajaran, cerita kisah ini tidak berubah sejak ribuan tahun lalu.

Kerja keras bukanlah romantisme moral, melainkan teknologi peradaban yang paling tua dan paling efektif. Tidak ada kebun yang menghasilkan panen hanya karena dipandangi. Tidak ada ekonomi yang tumbuh dari lamunan.

Warisan Pasif ke Pendidikan Aktif

Anak-anak dalam cerita diatas digambarkan dengan sikap malas karena mereka tidak memahami hubungan sebab-akibat.

Mereka membayangkan hidup sebagai hadiah, bukan sebagai proses.

Di titik ini, kisah tersebut menyinggung inti pendidikan, yakni pendidikan bukan sekadar transfer informasi, melainkan pembentukan kesadaran tentang realitas.

Di Kalimantan Barat, kita sering mengeluhkan generasi muda yang “kurang mau kerja”.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih jujur, apakah kita sedang mendidik mereka agar siap bekerja, atau hanya menjejalkan hafalan demi nilai ujian?

Apakah sekolah mengajarkan kesabaran proses—atau justru memperkuat budaya instan lewat sistem yang hanya menghargai hasil akhir?

Tiga tahun terakhir, para pemikir pendidikan mulai menegaskan hal ini. Misalnya saja, deh - Yuval Noah Harari (2022) dalam Unstoppable Us menggarisbawahi bahwa manusia bertahan bukan karena kekuatan fisik, tetapi karena kemampuan belajar, beradaptasi, dan bekerja sama.

Sama pula dalam tulisan Gert Biesta (2021) di World-Centred Education menegaskan pendidikan bukan hanya mencetak pekerja, tetapi membentuk manusia yang bertanggung jawab di dunia yang nyata. Sejalan dengan itu pula, Ken Mogi (2023) tulisannya di The Way of Nagomi menekankan pentingnya inner discipline sebagai fondasi kebahagiaan untuk bertahan lama, bukan sekadar pencapaian eksternal.

Dalam ‘arena’ ini, penulis menggarisbawahi bahwa pendidikan yang baik tidak memanjakan, tetapi memampukan.

Orang tua dalam cerita Tiongkok itu tidak mewariskan uang. Ia mewariskan kesempatan untuk menemukan nilai kerja. Dan ternyata, justru itulah pendidikan paling efektif—karena dipelajari lewat peluh, bukan lewat ‘ceramah’.

Proses Lebih Pasti daripada Keajaiban

Mari turunkan cerita itu ke tanah tempat kita berpijak. Di Kalbar, lada pernah berjaya, lalu turun karena harga, iklim, dan kerusakan sistem budidaya.

Halaman:

Tags

Terkini